Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Sefruit

Fenomena War di Kolom Komentar, Sekadar Bercanda atau Sudah Jadi Budaya?

Ramai meme "Learn Cyber Bullying in Indonesian", kenapa netizen kita hobi banget war di kolom komentar? Yuk, bedah fenomena online disinhibition effect ini secara psikologis di artikel ini.

Fenomena War di Kolom Komentar, Sekadar Bercanda atau Sudah Jadi Budaya?
https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/07/photo_2026-07-03_18-47-26.webp

Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh meme bertuliskan “Learn Cyber Bullying in Indonesian in 4 Weeks”.

Meski hanya sebuah lelucon, banyak netizen menganggapnya terasa “relate“. Pasalnya, kolom komentar di media sosial Indonesia memang sering berubah menjadi tempat adu argumen, saling sindir, hingga saling menyerang.

Lalu, kenapa fenomena ini bisa sering terjadi?

Salah satu penjelasannya berasal dari konsep online disinhibition effect. Dalam jurnal The Online Disinhibition Effect (2004), psikolog John Suler menjelaskan bahwa seseorang cenderung lebih berani berkata kasar, menyerang, atau mengutarakan pendapat secara ekstrem ketika berada di dunia maya.

Iklan

Faktor seperti anonimitas, tidak bertatap muka secara langsung, hingga minimnya konsekuensi membuat orang lebih mudah menulis hal-hal yang mungkin tidak akan mereka ucapkan di kehidupan nyata.

Selain itu, media sosial memang dirancang untuk mendorong interaksi. Sayangnya, komentar yang memicu emosi sering kali mendapat lebih banyak balasan, sehingga terlihat lebih ramai. Akibatnya, perdebatan kecil bisa berkembang menjadi “war” yang melibatkan banyak orang.

Ada juga faktor psikologis lain, yaitu social identity atau identitas kelompok. Dalam buku Rediscovering the Social Group: A Self-Categorization Theory (1987), John C. Turner, Michael A. Hogg, Penelope J. Oakes, Stephen D. Reicher, dan Margaret S. Wetherell menjelaskan bahwa seseorang cenderung membela kelompok atau pandangan yang dianggap mewakili dirinya.

Di media sosial, hal ini bisa terlihat ketika netizen membela idola, komunitas, atau pendapat tertentu, bahkan hingga berdebat dengan orang yang tidak dikenal.

Namun, tidak semua perdebatan di kolom komentar bersifat negatif. Diskusi yang sehat tetap bisa memperluas sudut pandang dan mendorong pertukaran ide.

Masalahnya muncul ketika perbedaan pendapat berubah menjadi ejekan, body shaming, atau serangan personal.

Meme “Learn Cyber Bullying in Indonesian in 4 Weeks” memang mengundang tawa. Tetapi di balik humornya, meme tersebut juga menjadi pengingat bahwa budaya berkomentar di internet masih menjadi tantangan.

Ketika komentar kasar dianggap hiburan atau sesuatu yang biasa, batas antara bercanda dan menyakiti orang lain bisa menjadi semakin kabur.

Karena itu, sebelum ikut membalas komentar yang memancing emosi, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah komentar ini benar-benar akan memperbaiki diskusi, atau justru memperpanjang konflik?

Bagaimanapun, media sosial bisa menjadi ruang untuk berbagi pendapat tanpa harus saling menjatuhkan. Setiap komentar yang kita tulis ikut membentuk budaya digital yang kita ciptakan bersama.

Kalau kamu suka artikel seputar psikologi, media sosial, dan fenomena sehari-hari yang dibahas berdasarkan riset, jangan lupa share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya!

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Writer

    a little chaotic, a little curious, and always in my own world. here for the random moments, unexpected stories, new interests, and everything in between.

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.