Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan akan menindaklanjuti temuan ribuan gelondongan kayu yang ikut hanyut saat banjir di Sumatera. Ia mengatakan telah berkoordinasi dan akan membentuk tim gabungan.
Kami secara lisan sudah berkoordinasi dengan Menteri Kehutanan dan besok kami akan melaksanakan rapat bersama untuk menurunkan tim gabungan,”
Sigit di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu 3 Desember 2025.
Pembentukkan tim tersebut guna menyelidiki dugaan adanya tindak pidana yang terjadi seperti illegal logging. Namun untuk teknis penyelidikan tim gabungan tersebut akan dibahasnya besok.
Untuk melakukan proses penyelidikan pendalaman terkait dengan peristiwa yang terjadi. Tentunya apabila ada pelanggaran hukum, kita akan proses,”
Sigit.
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara (Sumut), menyebut tujuh perusahaan sebagai dalang dibalik bencana ekologis yang melanda kawasan Tapanuli.
Sejak Selasa, 25 November 2025, sedikitnya ada delapan kabupaten/kota di Sumut yang terdampak banjir bandang dan longsor. Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah sebagai wilayah paling tragis.
Puluhan ribu warga mengungsi, ribuan rumah hancur, serta ribuan hektare lahan pertanian rusak disapu banjir.
Hingga kini, tercatat 51 desa di 42 kecamatan terdampak banjir yang melumpuhkan perekonomian, merusak infrastruktur, rumah, tempat ibadah dan sekolah.
Bencana tersebut paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli (Ekosistem Batang Toru), yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Kota Sibolga.
Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba, menyebut bahwa ekosistem Batang Toru saat ini adalah hutan penyangga hidrologis yang terus terkikis.
Ekosistem Batang Toru merupakan salah satu bentang hutan tropis esensial di Sumatera Utara. Secara administratif, 66,7 persen berada di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan 10,7 persen di Tapanuli Tengah.
Sebagai bagian dari Bukit Barisan, hutan ini menjadi sumber air utama, mencegah banjir dan erosi, serta menjadi pusat Daerah Aliran Sungai (DAS) menuju wilayah hilir,”
Rianda Purba, melalui rilis yang diterima redaksi, Selasa, 2 Desember 2025.
Berikut daftar 7 Perusahaan diduga penyebab banjir dan longsor di Sumatera,
- PT Agincourt Resources
- PLTA Batang Toru (PT NSHE)
- PT Toba Pulp Lestari (PKR)
- PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu
- PT SOL Geothermal Indonesia – Energi
- PT Sago Nauli Plantation
- PTPN III Batang Toru Estate






















