Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Minggu, 9 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / (Part I) Mega Proyek 1.000 Dapur MBG: Pertaruhan Independensi PBNU di Dasar Ompreng
Nasional

(Part I) Mega Proyek 1.000 Dapur MBG: Pertaruhan Independensi PBNU di Dasar Ompreng

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Februari 26, 2026 2:40 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
5 bulan lalu
Share
Petugas menyusun ompreng berisi Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur SPPG Tubo Ternate, Maluku Utara
Petugas menyusun ompreng berisi Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur SPPG Tubo Ternate, Maluku Utara, Senin (26/1/2026). Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengatakan bahwa 32 ribu pegawai inti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG akan diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang terdapat tiga komponen yaitu Kepala Kepala SPPG, tenaga ahli gizi dan akuntan yang berstatus sebagai pegawai Badan Gizi Nasional mulai 1 Februari 2026. (ANTARA FOTO/ Andri Saputra/foc)
SHARE

Dari hulu industri ekstraktif hingga ke hilir rantai pasok logistik pangan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kini makin mengukuhkan posisinya sebagai mitra strategis nomor wahid bagi mega-proyek pemerintah.

Belum reda perdebatan publik perihal karpet merah konsesi tambang batu bara yang dianugerahkan pada pertengahan 2024 lalu, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini kembali mendapat mandat jumbo dari negara: mengelola urusan perut jutaan anak Indonesia.

Juni 2025, melalui kolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo, PBNU ditargetkan untuk membangun dan menjadi operator bagi 1.000 titik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai pesantren.

Kepala BGN Dadan Hindayana, mengklaim keterlibatan NU sangat strategis karena sebagian besar pesantren di Indonesia berada dalam jejaring NU.

Pemenuhan gizi bagi santri melalui MBG diyakini berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional, serta dengan keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan pondok pesantren, bakal memberikan manfaat jangka panjang, tidak hanya dari sisi pemenuhan gizi tetapi juga keberlanjutan ekonomi.

Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 2 BGN Nurjaeni, mengapresiasi pencapaian PBNU dalam konteks MBG. Dia bilang, per Februari ini, terdapat 188 SPPG yang telah berdiri dan 205 lainnya dalam tahap persiapan.

Per 29 Januari 2026, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebutkan program MBG telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat, 22.091 SPPG, 924.424 tenaga kerja SPPG, 68.551 pemasok, dan 21.413 mitra.

Keterlibatan PBNU kali ini menjadi perbincangan publik karena mempertegas “pola jatah proyek”. Pada pertengahan 2024 atau saat era Presiden Joko Widodo (Jokowi), PBNU menjadi ormas keagamaan pertama yang merespons positif dan menerima Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) melalui beleid PP Nomor 25 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Sekarang, rangkaian konsesi dari hulu (tambang energi) ke hilir (logistik program prioritas MBG) seolah memperlihatkan PBNU sedang dibangun menjadi holding ekonomi raksasa yang operasionalnya sangat bergantung pada regulasi dan anggaran negara.

Manuver ini tidak sekadar dilihat sebagai bentuk pengabdian sosial, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam pola relasi antara ormas dan rezim.

Dapur Baru, Aktor Baru

Secara historis, fungsi utama PBNU melekat erat pada perannya sebagai penjaga moral bangsa, merawat pluralisme, dan menjaga keharmonisan Islam.

Namun, pelibatan organisasi dalam proyek-proyek teknis pemerintah menandai adanya pergeseran orientasi yang drastis.

Peneliti dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati menyoroti reposisi ini sebagai sebuah dilema besar bagi PBNU, terjadi perubahan ruang gerak ormas dari ranah pembentukan wacana menjadi pelaku teknis di lapangan.

Awalnya concern dalam (ranah) sosio-religius, sekarang lebih kepada sosio-politik karena MBG ini program kerja yang ada nuansa politiknya. Sebelumnya PBNU tidak pernah terlibat dalam kebijakan yang sifatnya praktis. Di era Jokowi, PBNU lebih fokus di bidang diskursif, misalnya moderasi beragama dan deradikalisasi,”

kata Wasisto, kepada owrite.

Secara umum keterlibatan PBNU dalam proyek MBG ini sangat dilematis, sebab tugas utama PBNU untuk menjaga keharmonisan Islam dan pluralisme, menjaga toleransi.

Maka campur tangannya, PBNU dalam kebijakan ini secara langsung mengubah pergeseran orientasi ormas tersebut.

Wasisto juga menekankan ketidaksesuaian kompetensi antara entitas ormas keagamaan dengan karakter proyek yang ditangani.

Pelaksanaan proyek rantai pasok pangan yang masif idealnya diserahkan kepada lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada ketahanan pangan dan manufaktur, bukan ormas keagamaan.

Niat (PBNU) memang bagus, turut menyukseskan program pemerintah. Namun, tidak semua program pemerintah harus harus dijalankan secara kolaboratif. Karena ada kompetensi berbeda antara program yang ditawarkan dengan organisasi itu sendiri. Contoh, PBNU sekarang bukan aktor praktis yang hadir dalam kebijakan, bukan?”

sambung Wasisto.

Menjadi pelaksana teknis kebijakan pemerintah membawa risiko operasional yang langsung berimbas pada citra organisasi.

Bila terjadi kegagalan manajemen atau masalah di lapangan saat eksekusi program MBG, PBNU turut memikul beban kesalahan.

Risiko ini tidak bisa dianggap remeh, lamntaran PBNU bukan sekadar organisasi struktural, melainkan entitas yang merepresentasikan ulama.

“Biasanya” posisi PBNU lebih menjadi pemberi sugesti dan nasihat bagi pemerintah, bukan aktor langsung di lapangan.

Jika MBG-nya bermasalah—umpama ada dugaan penyelewengan dana dapur—otomatis PBNU kena.

Perihal kemampuan PBNU untuk kembali mandiri secara politik di masa depan setelah terbiasa mengelola dana jumbo, Wasisto menyebut semuanya berpulang pada ketegasan pimpinan pengurus.

Pilihan untuk mendekat kepafa negara demi akses sumber daya memang membawa risiko mengikis otonomitas organisasi.

Muncul narasi pelibatan PBNU disebabkan infrastruktur negara tidak sanggup menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

Namun, tesis ini dibantah oleh Wasisto. Secara hierarki, pemerintah memiliki ranting birokrasi yang mapan hingga level desa.

Keterlibatan PBNU lebih dibaca sebagai strategi pemerintah untuk merangkul dan melakukan penetrasi ke dalam elemen masyarakat, sekaligus menjadikan ormas sebagai tameng legitimasi.

Saya tidak mau menyebutnya kooptasi atau kontrak sosial, tapi lebih pada penetrasi dari pemerintah untuk merangkul semua elemen menjadi bagian dari sistem kekuasaan. Negara melihat ormas sebagai opinion maker. Keterlibatan ormas bisa merubah persepsi publik dan menjaga legitimasi pemerintah atau mempertahankan tren positif,”

jelas Wasisto.

Dengan ditariknya PBNU menjadi bagian dari eksekutor program, pemerintah berhasil membagi tanggung jawab moral.

Sehingga secara tidak langsung, kalau terjadi masalah di lapangan, berarti masalah tidak hanya di (tangan) pemerintah, tapi juga aktor yang bertanggung jawab di situ,”

lanjut dia.

Jika kolaborasi distribusi barang publik antara PBNU dan pemerintah dinilai sukses, model ini berpotensi menjadi standar baru yang direplikasi untuk merangkul ormas-ormas keagamaan lainnya ke depan, sekaligus meredam potensi kecemburuan sosial.

Di sisi lain, tidak bisa dilepaskan pula konteks politik pasca 2017, yakni gelombang populisme Islam mulai menyadarkan pemerintah tentang kekuatan ormas keagamaan.

Menjadikan ormas sebagai mitra bisnis dan pelaksana proyek strategis merupakan cara paling taktis mengelola potensi perlawanan dari kelompok yang berpotensi menjadi oposisi.

Ini lebih pada strategi. Daripada membiarkan kalangan oposisi bebas, lebih baik mendekatkannya ke dalam circle (lingkaran kekuasaan). Karena mungkin asumsi yang dibangun adalah mereka lebih mudah dikontrol atau lebih mudah diawasi,”

ujar Wasisto.
Tag:Badan Gizi NasionalHeadlinemakan bergizi gratisMBGPBNUPengurus Besar Nahdlatul UlamaSpill
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Cibir Keluhan Pasien BPJS dan Diduga Langgar Sumpah: IDI Bakal Panggil Dokter Nirempati
By Syifa Fauziah
Ilustrasi kritik sikap nirempati tenaga medis terhadap keluhan pasien BPJS.
1
Jakarta Berpayung Awan Hari Ini: Jaksel Terpanas, Suhu Tembus 34 Derajat
By Syifa Fauziah
Ilustrasi kota berawan dan cuaca panas.
2
Wasit Jadi Sorotan! Keputusan VAR di Laga Indonesia vs Singapura Tuai Polemik
By Hadi Febriansyah
Pesepak bola Timnas Indonesia berfoto bersama sebelum laga melawan Timnas Kamboja pada pertandingan Grup A ASEAN Championship atau Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3
Anak Sering Bawa Pulang MBG untuk Ibunya, BGN Kini Perketat Larangan
By Rika Pangesti
Siswa menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 106162, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
4
Enam Lantai Gedung Bapenda DKI Terbakar, Titik Awal Api Masih Misterius
By Rika Pangesti
Petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta bersiap memadamkan kobaran api yang membakar Gedung Badang Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta di Jalan Abdul Muis, Jakarta
5

BERITA LAINNYA

Ilustrasi seleksi anggota Polri.
Nasional

Sertifikat Prestasi Bukan ‘Tiket Emas’: Rekrutmen Polri Wajib Lewat Seleksi BETAH

Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menyatakan proses penerimaan anggota…

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
By
Adi Briantika
Amin Suciady
2 jam lalu
Ilustrasi kritik sikap nirempati tenaga medis terhadap keluhan pasien BPJS.
Nasional

Cibir Keluhan Pasien BPJS dan Diduga Langgar Sumpah: IDI Bakal Panggil Dokter Nirempati

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Slamet Budiarto menyoroti…

Syifa Fauziahowrite-adi-briantika
By
Syifa Fauziah
Adi Briantika
2 jam lalu
Sejumlah petugas mengemas makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Polres Aceh Barat, Aceh
Nasional

950 Dapur MBG Diduga Tak Higienis dan Sanitasi Tak Layak

Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan sekitar 950 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)…

Rika PangestiIvan OWRITE
By
Rika Pangesti
Ivan Syahruna Lubis
16 jam lalu
Anggota DPR RI Abdullah
Nasional

Kasus Yurizal Viral, DPR Desak Kemenkes Benahi Sistem Komunikasi Pelayanan Pasien

Kasus pasien BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan yang viral di media sosial…

Rika PangestiIvan OWRITE
By
Rika Pangesti
Ivan Syahruna Lubis
21 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up