Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Mariano Grossi, mengatakan tidak ada bukti bahwa Iran saat ini sedang membangun bom nuklir. Dia juga memperingatkan bahwa isu-isu yang belum terselesaikan seputar program nuklir Teheran tetap menjadi perhatian serius.
Melansir dari Middle East Monitor, Kamis, 5 Maret 2026, Grossi mengatakan Iran memiliki persediaan uranium yang bisa diperkaya dalam jumlah besar dan dapat mencapai tingkat mendekati senjata nuklir. Namun, hingga saat pihaknya belum menemukan bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
Meski demikian, Grossi menekankan bahwa penolakan Iran untuk memberikan akses penuh kepada inspektur internasional telah meningkatkan kekhawatiran di dalam badan tersebut.
Evaluasi ini didasarkan pada fakta bahwa Iran memiliki program nuklir yang sangat besar dan ambisius, dan kami tidak memiliki akses yang seharusnya kami miliki,”
kata Grossi, merujuk pada penolakan Iran untuk mengizinkan inspektur IAEA mengunjungi situs nuklir mereka yang rusak.
Pada saat yang sama, saya telah mengatakan…kami tidak melihat program terstruktur untuk memproduksi senjata nuklir,”
tambahnya.
Ia pun memperingatkan bahwa tanpa kerja sama dari Teheran dalam menangani pertanyaan-pertanyaan yang belum terselesaikan, IAEA tidak akan dapat memberikan jaminan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya damai.
Komentar tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan menyusul pecahnya permusuhan antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel pada Sabtu lalu, 28 Februari 2026, yang dilaporkan dipicu setelah negosiasi mengenai program nuklir gagal menghasilkan kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, mengatakan sehari sebelum konflik dimulai, Iran pada prinsipnya telah setuju untuk tidak menyimpan uranium yang diperkaya sebagai bagian dari diskusi diplomatik yang sedang berlangsung.
Menurut al-Busaidi, proposal tersebut termasuk melepaskan material yang diperkaya dan memastikan bahwa tidak ada bahan bakar nuklir yang akan ditimbun, dengan mekanisme verifikasi yang diterapkan.
Namun, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa Iran seharusnya tidak memperkaya uranium sama sekali, termasuk pada tingkat di bawah tingkat senjata nuklir, dan mengulangi tuntutan lama Washington agar Teheran sepenuhnya menghentikan kegiatan pengayaan.

