Hari ke-19 Ramadan, Senin, 9 Maret 2026, masyarakat masih dihadapkan pada tingginya harga kebutuhan pokok. Di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih dan klaim pemerintah perihal stok pangan masih aman, kenyataan di lapangan malah menunjukkan persisten gejolak harga jelang Idul Fitri.
Pengamat pertanian, Khudori, menyoroti kenaikan harga pangan saat Ramadan bagai sebuah siklus tahunan yang tak kunjung usai. Tradisi “pesta makan” dan sajian menu berbuka yang istimewa mendorong lonjakan permintaan yang kerap dimanfaatkan oleh pihak tertentu demi mengeruk keuntungan.
Berdasarkan catatan historis, inflasi ketika Ramadan selalu menjadi tantangan berat bagi otoritas kebijakan.
- Satu dekade (2005-2015): Inflasi Ramadan tidak pernah berada di bawah angka 0,7 persen, dengan rekor tertinggi mencapai 8,7 persen pada tahun 2005;
- Periode 2016-2019 (Ramadan pada Juni): Inflasi berturut-turut tercatat mencapai 0,66 persen, 0,69 persen, 0,59 persen, dan 0,68 persen;
- Periode 2020-2023 (Ramadan pada April): Menunjukkan angka yang relatif lebih rendah, yakni 0,08 persen (2020), 0,13 persen (2021), 0,95 persen (2022), dan 0,33 persen (2023);
- Periode 2024-2025 (Ramadan pada Maret): Inflasi kembali melonjak menjadi 0,52 persen pada 2024 dan menembus 1,65 persen pada 2025.
Inflasi Ramadan mayoritas disulut oleh harga-harga pangan (volatile food). Permintaan naik yang tak mampu diimbangi pasokan membuat harga terpantik tinggi atau ada pihak-pihak yang ‘bermain di air keruh’ memanfaatkan aji mumpung: menaikkan harga untuk meraih untung besar,”
kata Khudori, di Jakarta Senin, 9 Maret 2026.
Mengacu pada data historis 2020-2025, daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, cabai rawit, bawang putih, gula konsumsi, dan ikan segar menjadi penyumbang utama inflasi saat Ramadan.
Kondisi tahun ini tidak jauh berbeda. Pada Februari 2026, ketika 10 hari terakhirnya memasuki bulan puasa, inflasi mencapai 0,68 persen. Memasuki Maret, inflasi diproyeksikan semakin tinggi.
Sementara, lanjut Khudori, merujuk data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 6 Maret 2026, rata-rata harga sejumlah komoditas utama—seperti gula, bawang merah, telur, daging ayam, MinyaKita, cabai rawit, serta beras medium dan premium—masih bertengger di atas Harga Acuan dan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Khudori pun meminta pemerintah untuk segera mengoptimalkan upaya taktis di lapangan:
- Percepat distribusi pangan impor: Barang yang diimpor, seperti bawang putih, harus segera disalurkan ke pasar dan tidak ditumpuk di gudang. Otoritas harus memperketat pengawasan berbasis data gudang;
- Amankan logistik pangan lokal: Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha harus memastikan kelancaran distribusi dari sentra produksi ke sentra konsumen tanpa ada kendala transportasi;
- Gencarkan operasi pasar dan bazar murah: Penyediaan pangan murah sangat esensial untuk menjaga daya beli masyarakat pada sisa Ramadan;
- Evaluasi kinerja BUMN Pangan: BULOG perlu mempercepat penjualan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang saat ini mandek di angka 4.000-5.000 ton per hari, serta membenahi distribusi MinyaKita yang harganya masih menembus Rp15.700 per liter (di atas HET);
- Keadilan harga daging BUMN: PT Berdikari (ID FOOD) dituntut untuk menstabilkan harga daging kerbau yang kini melonjak hingga 40 persen di atas harga acuan, sementara daging sapi terpantau stabil di kisaran Rp130.000-Rp140.000 per kilogram. BUMN harus menjadi contoh dalam mematuhi aturan harga acuan dari pemerintah.


