Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan bahwa pihaknya mampu melancarkan perang intensif melawan Amerika Serikat dan Israel setidaknya selama enam bulan.
Hal itu disampaikan IRGC dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Fars, pada Minggu, 8 Maret 2026.
Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mampu melanjutkan perang intensif setidaknya selama 6 bulan dengan laju operasi saat ini,”
kata juru bicara Garda Revolusi, Ali Mohammad Naini, dikutip dari The Economic Times, Senin 9 Maret 2026.
Garda Revolusi, pasukan elit Iran, juga mengatakan mereka telah menargetkan lebih dari 200 lokasi, yang terkait dengan pangkalan dan fasilitas Amerika dan Israel di seluruh wilayah tersebut.
Saat konflik Iran berlanjut ke minggu kedua, dampak regionalnya semakin meluas, dengan Arab Saudi mencegat gelombang drone yang menuju target termasuk kawasan diplomatik di ibu kota Riyadh.
Kuwait pun mengatakan serangan menghantam tangki bahan bakar di bandara internasionalnya.
Serangan terhadap penyimpanan bahan bakar penerbangan Kuwait memperburuk kekhawatiran atas pasokan energi, dengan perusahaan minyak nasional negara itu juga mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah karena ancaman terhadap Selat Hormuz, tempat seperlima minyak dan gas dunia transit.
Lebih jauh, Iran mengklaim bahwa AS dan Israel menyerang depot minyak di ibu kota Iran pada hari Sabtu, 7 Maret 2026.
Ini merupakan serangan pertama yang dilaporkan terhadap infrastruktur minyak republik Islam tersebut di tengah anjloknya pasar saham dan melonjaknya harga minyak mentah.
Militer Israel mengatakan mereka menyerang sejumlah fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran yang digunakan untuk mengoperasikan infrastruktur militer.
Militer Israel juga melancarkan gelombang serangan baru di seluruh Teheran pada hari Minggu, setelah melakukan serangan presisi yang menargetkan komandan kunci di Pasukan Quds, sayap operasi luar negeri Garda Revolusi Iran, di sebuah hotel di daerah pusat Beirut.


