Wacana berakhirnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali jadi sorotan dunia internasional. Konflik hampir empat bulan itu membuat ekonomi dunia ketar ketir karena ikut terdampak.
Muncul analisis yang menyebut Washington berada dalam posisi tertekan usai perang yang berlangsung lebih dari tiga bulan.
Pengamat geopolitik internasional, Tengku Zulkifli Usman menilai arah perkembangan konflik menunjukkan adanya peluang kesepakatan damai antara AS dengan Iran.
Menurutnya, proses penghentian konflik disebut akan ditandai dengan penandatanganan draf kesepakatan damai di Swiss yang dijadwalkan Jumat, 19 Juni 2026.
Jumat besok, AS dan Iran akan ke Swiss menandatangani kesepakatan penghentian perang. Setelah 100 hari konflik,”
tulis Tengku Zulkifli Usman yang dikutip dari laman Facebook pribadinya, Selasa, 16 Juni 2026.
Dalam analisanya, Tengku menyebut AS akan menghadapi sejumlah kewajiban sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Hal itu termasuk pencabutan berbagai kebijakan terhadap Iran.
Dalam 30 dan 60 hari kedepan. AS harus mencabut semua sanksi atas Iran,”
ujarnya.
Komitmen AS
Lebih lanjut, ia menilai kesepakatan itu mencakup sejumlah poin strategis yang selama ini jadi sumber ketegangan antara kedua negara.
AS harus mencabut blokade Selat Hormuz, membayar kompensasi perang 300 miliar dolar. Mencairkan dana Iran tahap awal 25 miliar dolar,”
ujarnya.
Dikatakan Tengku, salah satu poin penting dalam kesepakatan itu adalah komitmen AS untuk tak lagi mengintervensi kedaulatan Iran, maupun menekan program strategis negara tersebut.
AS berkomitmen tidak menggangu kedaulatan Iran kedepannya, tidak menyita Uranium, tidak ada term soal nuklir Iran secara ketat,”
bebernya.
Lebih jauh, ia menilai Washington juga akan memiliki tanggung jawab untuk menekan sekutunya di kawasan Timur Tengah agar menghentikan eskalasi konflik di berbagai front.
AS berkewajiban juga mematuhi perjanjian dengan mengontrol Netanyahu agar stop perang di semua front, termasuk Lebanon, Suriah, Gaza dan Irak,”
jelas Tengku.
Dalam perhitungannya, AS disebut menanggung kerugian ekonomi dan militer yang sangat besar akibat konflik tersebut.
Kerugian AS dalam perang ini termasuk biaya, korban, alutsista, kisaran di angka 85 -200 miliar dolar. Plus ganti rugi 300 miliar dolar, dan pencairan dana Iran 25 dolar,”
paparnya.
Tengku juga berpendapat bahwa konflik tersebut telah berdampak serius terhadap kesiapan militer AS terutama dari sisi persediaan amunisi.
Gara gara perang Iran tanpa hasil apapun, AS mengalami kekurangan stok amunisi yang diperkirakan hanya bisa kembali normal dalam waktu paling cepat 3 tahun ke depan,”
lanjutnya.
Dia menambahkan dengan kesepakatan damai AS-Iran yang sudah di depan mata, Israel tak punya pilihan. Ia bilang Perdana Menteri Israel Benjamine Netanyahu mesti menghentikan manuvernya menggempur Lebanon.
Perang di Lebanon harus stop, dan itu akan segera berdampak pada pemilu Israel Oktober nanti yang diprediksi akan membawa kekalahan terhadap Netanyahu,”
tuturnya.


