Kapten Timnas Korea Selatan, Son Heung-min mendapat hate comment atau komentar buruk dari wartawan korea di tengah gelaran Piala Dunia 2026. Insiden tersebut kemudian memicu kemarahan publik dan membuat hubungan anatar skuad Korea Selatan dengan media domestik memanas.
Menurut laporan Yahoo Sports, peristiwa itu bermula saat sesi latihan terbuka Timnas Korea Selatan di kamp latihan Guadalajara, Meksiko, pada 7 Juni lalu.
Saat latihan berlangsung, kamera dan mikrofon milik stasiun televisi JTBC tanpa sengaja menangkap percakapan beberapa jurnalis yang berada di lokasi. Dalam rekaman yang kemudian bocor ke publik, terdengar komentar yang mempertanyakan status wajib militer Son.
Salah satu komentar yang ramai diperbincangkan menyebut Son “tidak benar-benar menjalani wajib militer seperti orang lain”. Ucapan tersebut langsung menuai kritik karena dianggap meremehkan pengabdian pemain berusia 33 tahun itu kepada negaranya.
Video tersebut dengan cepat menyebar di media sosial Korea Selatan dan memicu gelombang kecaman dari para pendukung tim nasional.
Kontroversi itu rupanya juga berdampak langsung pada hubungan pemain dengan media.
Sejumlah media lokal melaporkan para pemain Korea Selatan memilih tidak memberikan wawancara kepada wartawan domestik di luar agenda resmi Piala Dunia. Bahkan, para pemain juga membatalkan beberapa sesi wawancara yang sudah dijadwalkan.
Sikap diam skuad Korea Selatan ini merupakan bentuk protes terhadap perlakuan yang diterima kapten mereka.
Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan Buka Suara
Menanggapi hal tersebut, Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) kemudian mengeluarkan pernyataan resmi dan menyayangkan insiden tersebut.
Dalam keterangannya, KFA menyebut percakapan yang bocor dari lokasi latihan telah menimbulkan “kejutan dan kekecewaan besar” di dalam tim.
Kami menghormati aktivitas jurnalistik dan peran media. Namun peliputan di lapangan harus dilakukan berdasarkan rasa saling menghormati dan kepercayaan. Perlindungan terhadap pemain harus menjadi prioritas,”
tulis KFA seperti dikutip dari The New York Times.
Federasi juga meminta media menunjukkan sikap yang lebih bertanggung jawab, agar kejadian serupa tidak terulang kembali selama Piala Dunia berlangsung.
Di Korea Selatan sendiri, isu mengenai wajib militer merupakan hal sensitif. Sebagian besar pria Korea Selatan diwajibkan menjalani dinas militer sekitar 21 bulan.
Namun, pemerintah Korea memberikan pengecualian. Hal ini khusus untuk atlet yang berhasil mengharumkan nama negara melalui prestasi internasional tertentu.
Son memperoleh hak tersebut, setelah membantu Korea Selatan meraih medali emas sepak bola pada Asian Games 2018.
Meski mendapat pengecualian, Son tidak sepenuhnya bebas dari kewajiban negara. Ia tetap menjalani pelatihan militer dasar selama tiga minggu pada 2020 dan menyelesaikan tugas pelayanan masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, banyak pendukung Son menilai komentar yang dilontarkan para jurnalis tidak berdasar karena status yang diterima sang pemain sepenuhnya sah menurut hukum Korea Selatan.
Kontroversi ini tidak hanya menjadi pembahasan di kalangan penggemar sepak bola, tetapi juga merambah komunitas K-pop.
Menurut laporan Indiatimes, banyak penggemar BTS atau ARMY yang ikut mengkomentari kasus tersebut. Mereka menilai kritik terhadap Son mengingatkan pada perdebatan panjang mengenai isu wajib militer yang pernah menyeret BTS beberapa tahun lalu.
Di media sosial, sejumlah netizen menilai figur publik yang telah membawa prestasi dan mengharumkan nama baik Korea Selatan ke panggung dunia, justru kerap menerima hate comment di dalam negeri.
Namun, di tengah polemik yang berkembang, Korea Selatan tetap melanjutkan perjuangannya di Piala Dunia 2026 dan bersiap menghadapi Meksiko pada laga berikutnya.



