Sebanyak 67 negara penyumbang pasukan untuk misi UNIFIL secara bersama-sama mengecam meningkatnya kekerasan di Lebanon sejak 2 Maret 2026.
Konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah menimbulkan korban jiwa, termasuk tiga prajurit TNI serta sejumlah personel lain yang mengalami luka.
Pernyataan bersama tersebut disampaikan oleh Perwakilan Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Umar Hadi, di Markas PBB, New York, Kamis 9 April 2026.
Dalam pembukaannya, Umar Hadi menyatakan kehormatan mewakili negara-negara penyumbang pasukan penjaga perdamaian dalam menyampaikan sikap bersama tersebut.
Umar menambahhkan negara-negara penyumbang pasukan untuk UN Interim Forces in Lebanon (UNIFIL) atau Pasukan Sementara PBB di Lebanon, bersama dengan beberapa Negara Anggota lainnya dan Uni Eropa, menyatakan keprihatinan mendalam atas peningkatan ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026 dan dampaknya terhadap keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian.
Kami mengutuk keras serangan terus-menerus terhadap UNIFIL, termasuk serangan serius terbaru yang merenggut nyawa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia. Kami juga mengutuk keras perilaku agresif yang tidak dapat diterima terhadap personel dan pimpinan UNIFIL yang baru-baru ini diamati.”
ujar Umar.
Lebih lanjut Umar juga mengingatkan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran serangan dan bahwa serangan terhadap mereka dilarang selama mereka menikmati perlindungan berdasarkan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan, dan dapat merupakan kejahatan perang.
Selain itu, keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat dinegosiasikan, dan kami mendesak PBB dan Dewan Keamanan untuk menggunakan semua alat yang tersedia untuk memperkuat perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam lingkungan yang semakin berbahaya.
Kami menegaskan kembali dukungan penuh kami untuk UNIFIL dan mandatnya, sebagaimana tercantum dalam resolusi Dewan Keamanan yang relevan, dan mendesak semua pihak, dalam semua keadaan, untuk mengambil semua tindakan untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel dan tempat pasukan penjaga perdamaian, sesuai dengan hukum internasional,”
ungkap Umar.
Tidak sampai disitu saja, Umar juga menyerukan kepada PBB untuk terus menyelidiki semua serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dengan cara yang cepat, transparan, dan komprehensif, dan terus memberi tahu negara penyumbang pasukan yang bersangkutan tentang kemajuannya, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan 2518 (2020) dan 2589 (2021). Mereka yang bertanggung jawab atas serangan ini harus dimintai pertanggungjawaban.
Dirinya juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Lebanon, khususnya korban sipil yang signifikan, kerusakan infrastruktur sipil yang luas, dan pengungsian massal lebih dari satu juta orang.
Kami menyerukan kepada semua pihak untuk segera kembali ke kesepakatan penghentian permusuhan tahun 2024 dan menghormati Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006). Kami menyerukan penghentian permusuhan di Lebanon, de-eskalasi ketegangan, dan agar semua pihak kembali ke meja perundingan. Kami menegaskan kembali komitmen kuat kami terhadap kedaulatan, kemerdekaan, integritas teritorial, dan persatuan Lebanon,”
papar Umar.
Kami memberikan penghormatan kepada dedikasi dan pengabdian semua pasukan penjaga perdamaian PBB yang mempertaruhkan nyawa mereka demi perdamaian dan keamanan internasional dan menyampaikan apresiasi mendalam kami kepada semua negara penyumbang pasukan,”
tambahnya.
Saat pernyataan dibacakan, terdapat 64 negara yang tergabung. Dalam waktu sekitar 30 menit, jumlah tersebut bertambah menjadi 67 negara.
Negara-negara yang tergabung dalam pernyataan ini mencakup berbagai kawasan dunia, antara lain Aljazair, Australia, Austria, Brasil, China, Prancis, Jerman, Indonesia, Italia, Jepang, hingga Inggris dan Uni Eropa.
Partisipasi luas ini menunjukkan tingginya perhatian global terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian.
Desakan Perlindungan dan Penyelidikan
Melalui pernyataan ini, negara-negara tersebut mendesak PBB untuk memperkuat perlindungan pasukan perdamaian, melakukan investigasi menyeluruh atas setiap serangan, dan menuntut pertanggungjawaban pelaku.
Selain itu, mereka juga menyerukan penghentian konflik dan mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan.
Kecaman dari puluhan negara ini menegaskan bahwa situasi di Lebanon telah menjadi perhatian serius dunia internasional.
Dengan meningkatnya korban jiwa dan dampak kemanusiaan, tekanan global terhadap pihak-pihak yang terlibat diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.


