Media-media Iran mulai mengungkap isi draf nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang disebut jadi fondasi menuju berakhirnya konflik kedua negara. Dokumen yang terdiri dari 14 poin tersebut memuat berbagai komitmen strategis mulai dari penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade angkatan laut, hingga negosiasi soal program nuklir Iran.
Kantor berita semi resmi Mehr melaporkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut mengatur penghentian segera dan permanen seluruh konflik di berbagai front. Hal itu termasuk yang berkaitan dengan Lebanon.
Mengutip dari Anadolu, Senin, 15 Juni 2026, draf itu juga memuat komitmen Washington untuk menghormati kedaulatan Iran dan tidak melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri Republik Islam tersebut.
Menurut laporan tersebut, Iran menyatakan nota kesepahaman telah difinalisasi dan dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Jenewa pada Jumat mendatang. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah selesai dan menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade angkatan laut sebagai bagian dari hasil yang dicapai.
AS Wajib Tarik Pasukan
Dalam draf yang beredar, AS diwajibkan menarik pasukan yang berada di sekitar Iran. Washington juga tak menambah pengerahan militer baru selama masa negosiasi berlangsung.
AS juga diminta tak memberlakukan sanksi tambahan terhadap Teheran dalam periode tersebut.
Salah satu poin paling penting dalam rancangan kesepakatan adalah pencabutan penuh blokade angkatan laut AS terhadap Iran dalam waktu 30 hari. Selain itu, Selat Hormuz yang selama ini jadi salah satu jalur energi paling strategis di dunia juga akan dibuka kembali dalam periode yang sama berdasarkan kesepakatan dengan Iran.

Mehr menyebutkan mekanisme pemantauan khusus akan dibentuk untuk memastikan seluruh butir perjanjian dijalankan sesuai jadwal dan komitmen yang telah disepakati kedua pihak.
Draf tersebut juga memuat langkah-langkah ekonomi yang dinilai sangat penting bagi Teheran. AS disebut akan menangguhkan sanksi terhadap sektor minyak, petrokimia, dan produk turunannya sehingga Iran bisa kembali mengakses pendapatan dari ekspor energinya.
Selain itu, aset Iran yang selama ini dibekukan senilai 24 miliar dolar AS akan mulai dilepaskan selama masa negosiasi 60 hari. Sebanyak separuh dari nilai tersebut disebut akan tersedia bagi Iran bahkan sebelum pembicaraan final dimulai.
Dalam kesepakatan akhir yang dirancang, seluruh sanksi primer dan sekunder AS terhadap Iran direncanakan dicabut. Tak hanya itu, sejumlah resolusi terkait Iran di Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga akan dihentikan.
Nuklir Jadi Agenda Utama
Rancangan kesepakatan menetapkan masa negosiasi selama 60 hari yang secara khusus akan membahas isu nuklir dan pencabutan sanksi.
Iran disebut akan kembali menegaskan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menyatakan tak akan memproduksi senjata nuklir.
Adapun pembahasan hanya akan difokuskan pada nasib material nuklir yang telah diperkaya, aktivitas pengayaan uranium, pencabutan sanksi, serta agenda rekonstruksi ekonomi Iran.
Menariknya, laporan Mehr menyebut program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok perlawanan di kawasan secara tegas tidak akan masuk dalam agenda perundingan akhir.
Rancangan itu juga meminta AS dan sekutunya menyiapkan program rekonstruksi ekonomi Iran senilai sedikitnya US$300 miliar. Jika tercapai, kesepakatan final nantinya akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut laporan itu, perundingan final baru akan dimulai setelah sebagian aset Iran yang dibekukan dicairkan, sanksi minyak ditangguhkan, dan blokade angkatan laut resmi dicabut.
Secara terpisah, Kantor Berita Tasnim melaporkan adanya sejumlah perubahan yang dimasukkan pada saat-saat terakhir negosiasi. Salah satunya menyangkut pengaturan administrasi Selat Hormuz yang menjadi salah satu isu paling sensitif dalam pembahasan.
Sumber yang mengetahui proses itu juga mengungkap bahwa jaminan terkait kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon dimasukkan pada tahap akhir. Klausul ini disebut berperan dalam keputusan Iran untuk tidak melanjutkan respons militer yang sebelumnya direncanakan menyusul serangan Israel di pinggiran selatan Beirut.
Dalam wawancara dengan The New York Times setelah mengumumkan tercapainya kesepakatan, Presiden Donald Trump melontarkan kritik tajam kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump kesal dengan Netanyahu karena dinilai hampir menggagalkan proses diplomasi AS dengan Iran.
“Dia orang yang sangat sulit,”
kata Trump tentang Netanyahu dikutip dari Al jazeera, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Trump, Netanyahu mestinya terimakasih kepada AS.
Dan sejujurnya, dia seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena telah melakukan ini. Karena jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan selama dua jam,”
tutur Trump.
Trump juga memperingatkan bahwa AS siap melanjutkan serangan terhadap Iran apabila kesepakatan final terkait program nuklir gagal dicapai.
Menurut laporan The New York Times, Trump menilai operasi militer yang dilakukan AS terhadap Iran jadi faktor utama yang mendorong Teheran bersedia menerima kesepakatan.
Mereka tidak menginginkan serangan ketiga,”
kata Trump.


