Kapal Arctic Sunrise milik Greenpeace akan memimpin misi kemanusiaan bersama lebih dari 70 kapal dan ribuan aktivis dalam armada Global Sumud Flotilla. Konvoi ini secara terbuka menantang blokade bantuan ke Gaza yang diberlakukan Israel.
Dalam misi tersebut, Arctic Sunrise akan memberikan dukungan teknis dan operasional untuk memastikan armada dapat melintasi Laut Mediterania dengan aman, sebelum menempuh sekitar 200 mil laut terakhir menuju Gaza.
Direktur Eksekutif Greenpeace Spanyol, Eva Saldaña, menyebut keikutsertaan ini sebagai bentuk solidaritas global di tengah meningkatnya konflik akibat operasi militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Ketika banyak pemerintah gagal menegakkan hukum internasional dan menghentikan penderitaan di Gaza, inisiatif ini menjadi simbol harapan dan solidaritas manusia,”
ujar Saldaña dari keterangan tertulisnya, dikutip Minggu, 19 April 2026.
Armada Global Sumud Flotilla berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026. Rute pelayaran akan melintasi Syracuse (Italia) dan Lerapetra (Yunani), sebelum menuju wilayah Gaza.
Kondisi Gaza Cerminkan Krisis Kemanusiaan Parah
Direktur Greenpeace kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), Ghiwa Nakat, menilai kondisi di Gaza mencerminkan krisis kemanusiaan yang semakin parah dan meluas ke kawasan lain seperti Lebanon.
Ia menegaskan bahwa misi ini bertujuan menuntut akses kemanusiaan yang aman dan menolak blokade yang dinilai melanggar hukum internasional.
Kami menolak kejahatan perang, kelaparan yang disengaja, hingga kerusakan lingkungan yang terjadi akibat konflik ini,”
tegasnya.
Dari Indonesia, Ketua Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyatakan keikutsertaan dalam misi ini menjadi bentuk komitmen terhadap perdamaian global dan keadilan, baik secara sosial maupun lingkungan.
Ia juga menyoroti dampak konflik terhadap perubahan iklim, terutama dari emisi yang dihasilkan akibat operasi militer.
Selain membawa pesan solidaritas, armada ini juga mengangkut bantuan simbolis berupa obat-obatan, makanan, dan air bersih untuk warga Gaza.
Sempat Dicegat Israel pada September 2025
Dalam pelayaran sebelumnya pada September 2025, armada serupa yang terdiri dari 42 kapal sempat dicegat militer Israel sekitar 70 mil laut dari Teluk Gaza. Sejumlah awak ditahan dan komunikasi kapal dilaporkan terganggu.
Kali ini, misi kembali digelar dengan skala lebih besar, sekaligus menjadi tekanan global terhadap blokade yang masih berlangsung.
Greenpeace menegaskan tuntutannya, mulai dari gencatan senjata permanen, pembebasan sandera, hingga penghentian pendudukan ilegal di Palestina.
Dengan meningkatnya eskalasi konflik, pelayaran Global Sumud Flotilla menjadi salah satu aksi sipil terbesar yang menantang langsung situasi di lapangan—dan berpotensi memicu respons baru dari pihak-pihak yang terlibat.


