Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Febrio Nathan Kacaribu, dan Direktur Jenderal Anggaran (DJA) Luky Alfirman telah dicopot oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisinya. Langkah ini dinilai akan membuat perpecahan internal dan jeda koordinasi di tengah tingginya kebutuhan fiskal.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman mengatakan pencopotan Dirjen Anggaran dan Dirjen DJSEF lebih tepat dibaca sebagai langkah konsolidasi fiskal di awal kepemimpinan. Hal ini utamanya untuk memastikan arah belanja dan pembiayaan negara sejalan dengan prioritas baru di tengah tekanan defisit, pelemahan rupiah, dan kenaikan yield.
Posisi ini sangat strategis dalam menentukan disiplin APBN, sehingga pergantian biasanya bertujuan mempercepat alignment kebijakan, bukan semata faktor personal,”
ujar Rizal saat dihubungi Owrite.id Minggu, 26 April 2026.
Namun, Rizal menilai bergantinya nahkoda keuangan negara tidak terlepas dari pembentukan ‘tim sendiri’. Menurutnya, hal ini wajar secara politik-birokrasi, tetapi berisiko menurunkan persepsi independensi dan profesionalisme.
Dalam konteks transisi, faktor pembentukan ‘tim sendiri’ juga tidak bisa diabaikan. Ini menjadi wajar secara politik-birokrasi, tetapi berisiko jika menurunkan persepsi independensi dan profesionalisme Kemenkeu yang selama ini menjadi anchor kepercayaan pasar,”
jelasnya.
Dampak Pencopotan Dua Pejabat Strategis
Rizal menjelaskan, dengan dicopotnya dua Dirjen strategis Kemenkeu ini akan memberikan dampak dalam jangka pendek dan menengah. Adapun dalam jangka pendek, pencopotan ini akan memicu friksi internal dan jeda koordinasi.
Dampaknya, jangka pendek berpotensi memicu friksi internal dan jeda koordinasi dalam pengelolaan anggaran dan pembiayaan, yang sensitif di tengah kebutuhan fiskal tinggi,”
terangnya.
Sedangkan dalam jangka menengah, dampak akan bergantung pada kualitas penggantinya. Bila nantinya, pengganti merupakan sosok yang memiliki kompetensi, maka akan memperkuat fiskal.
Jangka menengahnya sangat tergantung pada kualitas pengganti jika berbasis kompetensi, bisa memperkuat kredibilitas fiskal. Jika tidak, berisiko menaikkan risk premium, tercermin dari tekanan SBN dan rupiah,”
tegasnya.
Purbaya Klaim Dinamika Internal

Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Purbaya mengungkapkan, alasan di balik pencopotan dua pejabat strategis di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari dinamika internal.
Iya dan tidak, iya ada sedikit tapi tidak itu saja ada yang lain-lain,”
ujar Purbaya dalam media briefing di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat, 24 April 2026.
Purbaya mengakui, dinamika internal itu salah satunya adalah bawahan yang membangkang saat menerima arahan dari atasan. Dia pun menyinggung adanya berbagai informasi yang disebar oleh pihak internal Kementerian Keuangan, hal ini dinilai tidak akurat dan berpotensi merusak kredibilitas pemerintah.
Selalu ada berita dari sini Kementerian Keuangan yang keluar. Pertama, uang cuma 3 minggu habis sekarang Rp120 triliun saja sisanya,”
jelasnya.


