Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana menutup sejumlah program studi (prodi), yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Hal ini akan dilakukan dalam waktu dekat.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco mengatakan dengan penutupan ini diharapkan akan meningkatkan relevansi. Dalam hal ini perguruan tinggi diminta memiliki kerelaan untuk menyeleksi prodi yang perlu ditutup.
Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,”
ujar Badri dalam YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dikutip Minggu, 26 April 2026.
Badri berharap, dukungan dari konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK), agar rencana ini bisa terealisasi.
Sebenarnya yang dibutuhkan prodi apa ke depan, itu yang akan kita coba susun nanti bersama. Dan tentunya kajian-kajian dari kepengurusan PTPK ini,”
tuturnya.
Ia menuturkan, saat ini bonus demografi terus digaungkan, namun bila perguruan tinggi tidak menyelaraskan kebutuhan dengan pertumbuhan ekonomi ke depan. Maka target Indonesia menjadi negara maju sulit terealisasi.
Karena memang saat ini bonus demografi digaungkan dimana-mana. Tapi pendidikan tinggi yang diharapkan bisa mengantar untuk kita menjadi negara maju, itu tidak kita sesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi ke masa depan, tentunya tidak match,”
jelasnya.
Oversupply Lulusan
Badri mengatakan, ada salah satu prodi yang oversupply atau kelebihan pasokan lulusan, yakni kependidikan. Sebab, lulusan dari program ini setiap tahunnya sebanyak 490 ribu orang, namun kebutuhan di lapangan hanya 20 ribu.
Kalau saya melihatnya begini di statistik pendidikan tinggi program studi yang terkait social science itu kurang lebih sekitar 60 persen. Kalau kita cek lagi yang paling gede itu pendidikan/keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu. Sementara kebutuhan untuk lulusan keguruan hanya 20 ribu,”
tuturnya.



