Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran hingga Minggu, 26 April 2026 masih jauh dari kata sepakat. Sejumlah isu krusial antar dua negara terus menjadi batu sandungan, membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat kian tipis.
Perbedaan mendasar antara kedua negara tidak hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut kepentingan strategis dan kedaulatan.
Berikut ini lima isu krusial AS-Iran yang belum bisa menjadi titik temu kedua negara di tengah batas waktu yang kian sempit, seperti dikutip dari Al Jazeera:
1. Program Nuklir: Batas atau Penghentian Total

Amerika Serikat mendorong agar Iran menghentikan sepenuhnya program nuklirnya. Namun Teheran menolak keras tuntutan tersebut.
Iran hanya bersedia membatasi program nuklirnya dalam jangka waktu tertentu, bukan menghentikannya secara permanen. Bagi Iran, program nuklir adalah bagian dari hak kedaulatan yang tidak bisa dinegosiasikan sepenuhnya.
2. Uranium dan Kontrol AS

Isu lain yang memicu ketegangan adalah permintaan Washington untuk mengambil alih sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya oleh Iran.
Permintaan ini langsung ditolak oleh Teheran, yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk intervensi terhadap aset strategis nasionalnya.
3. Selat Hormuz: Tekanan di Jalur Energi Dunia

Ketegangan juga merembet ke Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Iran menegaskan akan tetap membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut selama Amerika Serikat masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebaliknya, Washington bersikukuh tidak akan mencabut blokade sebelum kesepakatan tercapai. Situasi ini menciptakan kebuntuan yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi global.
4. Sanksi dan Aset Beku

Dari sisi ekonomi, Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi serta pembebasan aset senilai sekitar US$20 miliar sebagai bagian dari kesepakatan.
Bagi Teheran, langkah ini menjadi syarat utama untuk memulihkan ekonomi domestik yang terdampak tekanan internasional.
5. Tuntutan Ganti Rugi Perang

Tak hanya itu, Iran juga mengajukan tuntutan kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Nilainya tidak kecil, mencapai sekitar US$270 miliar. Tuntutan ini semakin memperlebar jurang negosiasi karena berpotensi sulit diterima oleh pihak Washington.

