Industri Tanah Air tengah tertekan karena kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku plastik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor bahan baku plastik turun 14,96 persen secara month to month (mtm).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan impor bahan baku plastik tercatat sebesar US$338,1 juta atau turun 14,96 persen pada Maret 2026.
Impor bahan baku plastik kalau kita terjemahkan plastik itu ada pada HS 3901 sampai dengan 3914. Pada kondisi Maret 2026, ini untuk impor plastik itu sebesar US$338,1 juta atau turun secara mtm impor plastik itu 14,96 persen,”
ujar Ateng dalam konferensi pers Senin, 4 Mei 2026.
RI Impor Bahan Baku Plastik dari 3 Negara
Ateng menjelaskan, pada Maret impor bahan baku plastik RI berasal dari China sebesar 34,79 persen, Singapura 12,35 persen, dan Thailand 11,65 persen.
Adapun negara asal bahan baku plastik ini berasal dari Tiongkok ini sebesar 34,79 persen, kemudian dari Singapura 12,35 persen, dan Thailand 11,65 persen,”
katanya.
Sementara itu, sepanjang Januari-Maret 2026 impor plastik dan barang dari plastik tercatat sebesar US$2,55 miliar, dengan volume sebesar 1,65 juta ton.
Hadapi Tekanan Berat
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman mengungkapkan industri kini tengah menghadapi tekanan berat karena lonjakan harga plastik dan kelangkaan pasokan.
Adhi mengaku, saat ini industri makanan dan minuman sudah mengalami kesulitan untuk mendapat pasokan plastik. Bahkan, para pemasok dilaporkan mulai kehabisan stok dalam satu atau dua bulan kedepan.
Kita juga kesulitan mendapat dari pemasok plastik, beberapa sudah menyatakan kehabisan bahan baku untuk kemasan dan inilah yang menjadi masalah. Selain harga naik, juga ketersediaannya terbatas, dari beberapa pemasok ada yang bilang terakhir bulan Mei atau Juni sudah habis,”
ujar Adhi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, dikutip 14 April 2026.

