Nilai tukar rupiah melemah mendekati level Rp17.400 per dolar AS. Berdasarkan data penutupan perdagangan hari ini Senin, 4 Mei 2026 rupiah melemah sebesar 0,33 persen ke level Rp17.394 per dolar AS.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengatakan, pelemahan rupiah memberikan dampak buruk bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Salah satunya, meningkatkan defisit APBN.
Dampak tersebut terjadi melalui berbagai cara atau transmisi misalnya meningkatnya rasio utang dan nilai cicilan bunga plus pokok utang, mengingat sekitar 30 persen utang Pemerintah adalah utang luar negeri. Peningkatan biaya bunga akan meningkatkan defisit,”
ujar Wijayanto saat dihubungi Owrite.id Senin, 4 Mei 2026.
Selain itu, dampak pelemahan rupiah ke APBN adalah menaikkan besaran subsidi energi. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang mengimpor minyak dan gas (migas).
Meningkatkan nilai subsidi energi, mengingat kita importir minyak dan LPG dan keduanya ditransaksikan dalam USD. Apalagi harga energi dalam USD juga melejit, sehingga beban bagi APBN semakin berat,”
jelasnya.
Kemudian pelemahan rupiah akan meningkatkan potensi kerugian finansial. Kondisi ini akan menyebabkan beban utang ikut naik, dan Indonesia semakin sulit mencari pembeli surat utang.
Country risk kita meningkat, sehingga bunga utang naik dan semakin sulit mencari pembeli surat utang kita,”
terangnya.

Rupiah Semakin Tertekan
Wijayanto menjelaskan, rupiah akan semakin tertekan karena dua hal utama, pertama kondisi fiskal yang jauh dari solid. Kedua capital outflow baik akibat current account defisit, pelemahan Foreign Direct Investment (FDI), maupun outflow investasi portfolio.
Komunikasi pemerintah yang kurang terkoordinasi serta cenderung overpromised, overconfident dan oversimplify, ikut memperburuk keadaan,”
tegasnya.
Wijayanto memperkirakan, rupiah ke depan akan terus tertekan. Namun, tekanan akan berkurang saat Pemerintah berhasil meyakinkan investor dan dunia usaha.
Tekanan akan berkurang saat Pemerintah berhasil meyakinkan investor dan dunia usaha dengan kebijakan-kebijakan yang konkrit dan realistis guna menstabilkan fiskal dan memperbaiki current account,”
katanya.
Tabel Nilai Tukar Rupiah (USD/IDR) – April s.d. Mei 2026
| Tanggal | Kurs Penutupan (Rp) | Perubahan | Keterangan |
| 29 April 2026 | Rp 17.289 | — | Tren pelemahan mulai tajam |
| 30 April 2026 | Rp 17.346 | Pelemahan 57 poin | Rekor terlemah di akhir April |
| 1 Mei 2026 | Rp 17.325 | Penguatan tipis | Libur Hari Buruh (Pasar Terbatas) |
| 4 Mei 2026 (Pagi) | Rp 17.341 | Pelemahan 16 poin | Pembukaan pasar awal pekan |
| 4 Mei 2026 (Sore) | Rp 17.394 | Pelemahan 53 poin | Rekor terlemah sepanjang masa |
APBN Diklaim Kuat
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa enggan berbicara lebih jauh mengenai ambruknya rupiah. Dia menyerahkan, hal tersebut ke Bank Indonesia (BI)
Namun yang pasti, Purbaya memastikan bahwa APBN tidak akan terpengaruh pelemahan rupiah. Hal ini karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah melakukan perhitungan secara cermat.
Waktu kita simulasi yang saya bilang itu, rupiahnya juga sudah kita level yang pas. Jadi, APBN-nya enggak terpengaruh, karena sudah kita hitung ke level sana. Jadi kita forward looking ngitung anggaran itu,”
ujar Purbaya di Kementerian Keuangan.

