Nilai tukar rupiah jadi sorotan setelah masuk ke daftar mata uang terlemah di dunia versi Forbes. Dalam laporan terbaru majalah bisnis Forbes, rupiah menduduki peringkat lima dalam kelompok mata uang dengan nilai nominal terendah di dunia pada awal April 2026.
Forbes mendefinisikan “mata uang lemah” berdasarkan nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yaitu seberapa banyak unit mata uang negara tersebut yang dibutuhkan untuk membeli US$1.
Berdasarkan data per April 2026, nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp16.000-an per dolar AS menempatkan Indonesia di posisi kelima dalam daftar mata uang dengan pecahan nominal terbesar atau nilai tukar terendah terhadap dolar AS.
Mengutip data dari Databox, berikut daftar 10 negara dengan mata uang terlemah di dunia yang dihitung berdasarkan jumlah mata uang lokal per US$1.
1. Iran (Rial – IRR)
Menempati posisi pertama, Rial Iran menjadi mata uang terlemah di dunia. Per 21 Mei di pasar resmi, US$1 setara dengan 42.000 Rial, namun di pasar bebas nilainya bisa melonjak drastis hingga lebih dari 600.000 Rial.
Melemahnya Rial dipicu oleh konflik geopolitik berkepanjangan serta sanksi ekonomi internasional yang menekan ekonomi Iran selama beberapa dekade.
2. Lebanon (Pound – LBP)
Pound Lebanon berada di posisi kedua, di mana US$1 setara dengan sekitar 89.550 Pound. Lebanon masih menghadapi krisis ekonomi multidimensi yang parah, ditandai dengan tingkat inflasi yang tak terkendali dan ketidakstabilan politik internal.
3. Vietnam (Dong – VND)
Vietnam berada di posisi ketiga dengan nilai sekitar 26.368 Dong per US$1. Namun, Vietnam sebenarnya memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. Nilai Dong yang kecil ini dipengaruhi oleh sistem denominasi mata uang historis yang memang menggunakan nominal besar.
4. Laos (Kip – LAK)
Mata uang Laos yaitu Kip, berada di posisi keempat dengan nilai kisaran 21.923 Kip per US$1. Dalam beberapa tahun terakhir, Laos memang sedang menghadapi tekanan ekonomi akibat beban utang luar negeri yang besar dan inflasi yang tinggi.
5. Indonesia (Rupiah – IDR)
Rupiah Indonesia berada di posisi kelima, di mana US$1 diperdagangkan di kisaran Rp17.680. Secara nominal, pecahan rupiah memang terlihat besar terhadap dolar AS karena faktor historis sistem pecahan mata uang. Namun, kondisi ini tidak bisa jadi patokan mengenai performa ekonomi Indonesia.
6. Uzbekistan (Som – UZS)
Uzbekistan menempati posisi keenam dengan nilai berkisar 12.081 Som per US$1. Mata uang negara Asia Tengah ini memiliki nominal besar dalam transaksi sehari-hari sehingga nilai konversinya terhadap dolar terlihat rendah.
7. Guinea (Franc – GNF)
Franc Guinea berada di posisi ketujuh dengan nilai sekitar 8.740 Franc per US$1. Guinea sendiri saat ini masih di tahap pemulihan ekonomi akibat ketergantungan yang tinggi pada ekspor komoditas mentah.
8. Paraguay (Guarani – PYG)
Paraguay berada di posisi kedelapan melalui mata uang Guarani, dengan nilai berkisar 6.148 Guarani per US$1. Sama seperti Indonesia dan Vietnam, nominal mata uang Paraguay memang besar sejak awal, sehingga nilainya terlihat kecil saat dikonversi ke dolar.
9. Madagaskar (Ariary – MGA)
Mata uang Ariary Madagaskar berada di posisi kesembilan dengan nilai sekitar 4.184 Ariary per US$1. Ekonomi Madagaskar yang bertumpu pada sektor pertanian membuatnya rentan terhadap gejolak harga komoditas global.
10. Burundi (Franc – BIF)
Franc Burundi berada di posisi kesepuluh dengan nilai kisaran 2.978 Franc per US$1. Sebagai salah satu negara dengan pendapatan per kapita rendah di Afrika, nilai mata uang Burundi memang relatif kecil terhadap mata uang global.
Secara nominal, rupiah memang memiliki pecahan yang besar dibandingkan dolar AS. Hal ini membuat nilai tukarnya terlihat kecil ketika dikonversi ke mata uang Amerika Serikat.
Namun, kekuatan ekonomi sebuah negara tidak bisa hanya dinilai dari besar atau kecilnya nominal mata uang. Daya beli masyarakat atau purchasing power parity, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), kendali tingkat inflasi, hingga kestabilan harga barang di dalam negeri merupakan indikator yang jauh lebih penting untuk mengukur kesehatan ekonomi riil.
Bagi masyarakat awam, fluktuasi nilai tukar ini biasanya paling terasa dampaknya saat membeli barang-barang impor, melakukan transaksi perjalanan ke luar negeri, atau ketika harga produk lokal yang bergantung pada bahan baku impor ikut merangkak naik di pasaran.



