Dugaan faktor alam sebagai penyebab blackout massal di wilayah Sumatera memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem deteksi dini milik PT PLN (Persero), setelah perusahaan listrik negara itu mengungkap jaringan transmisi sebenarnya dipantau menggunakan teknologi infrared untuk mendeteksi panas berlebih pada sambungan kabel sebelum terjadi kerusakan.
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN Edwin Nugraha Putra menjelaskan, pihaknya telah melakukan inspeksi berlapis terhadap jaringan transmisi menyusul sejumlah gangguan, termasuk kejadian blackout di Sumatera.
Seperti kejadian yang ada di Aceh, termasuk kejadian kali ini, maka tentunya kami melakukan inspeksi double yang kami lakukan,”
kata Edwin dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Senin, 25 Mei 2026.
Ia menyebut PLN memanfaatkan teknologi infrared untuk mendeteksi potensi kerusakan pada sambungan kabel, terutama melalui peningkatan suhu yang tidak normal.
Jadi ada cara kami untuk melihat apakah sambungan tersebut sudah mulai retas atau tidak, karena kalau dia mulai retas akan timbul panas yang berlebih, sehingga memungkinkan kami memakai infrared untuk melihat titik tersebut apakah lebih panas dibandingkan dengan sisi kabel yang lainnya,”
ucapnya.
Menurut Edwin, sistem tersebut memiliki parameter khusus untuk mengukur kenaikan suhu. Jika suhu kabel melebihi batas tertentu dibandingkan kondisi lingkungan, maka akan dilakukan tindakan perawatan khusus.
Nah ketika kami mengetahui itu lebih panas, ada suhu tertentu kami bandingkan tentunya dengan suhu udara apakah kenaikannya sekitar 10 derajat atau 15 derajat, ada range-nya. Nah kalau ada yang tinggi biasanya kami akan melakukan pemeliharaan khusus ke tempat-tempat tersebut,”
bebernya.
Sementara itu, penyelidikan yang dilakukan Bareskrim Polri mengarah pada dugaan awal bahwa blackout dipicu faktor alam, setelah ditemukan putusnya jaringan konduktor pada saluran transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET).
Wakabareskrim Mabes Polri Nunung Syaifuddin mengungkapkan tim gabungan telah memeriksa sejumlah saksi di lokasi kejadian untuk mengumpulkan fakta lapangan.
Tim gabungan dari Bareskrim Polri yang terdiri dari Direktorat Tindak Pidana Umum, Tindak Pidana Tipidter dan Puslabfor telah melakukan pemeriksaan yang pertama saksi-saksi masyarakat yang tinggal di seputaran tempat titik terjadinya putusnya jaringan di SUTET,”
jelas Nunung.
Selain itu, Polri juga telah berkoordinasi dengan PLN melalui rapat gabungan guna mendalami aspek teknis dari insiden tersebut.
Kemudian yang kedua tentu kita tadi sampaikan juga kita sudah melaksanakan rapat gabungan beserta dengan teman-teman dari PLN dan kita sudah menggali informasi-informasi yang terkait dengan putusnya kabel atau jaringan atau konduktor ini sehingga besar kemungkinan, besar kemungkinan kita hanya perlu nanti kepastian dari Pak Kapuslabfor saja bahwa ini terjadi karena faktor alam,”
imbuhnya.
Meski dugaan sementara mengarah pada faktor alam, penyelidikan forensik masih terus berjalan untuk memastikan penyebab pasti gangguan listrik skala besar tersebut.



