Perpindahan sejumlah tokoh politik di Sulawesi Utara ke Partai Gerindra memantik perhatian publik.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar dinamika biasa, melainkan cerminan pergeseran peta kekuatan politik menjelang kontestasi mendatang.
Sejumlah nama besar tercatat bergabung ke Gerindra, di antaranya Wali Kota Bitung Hengky Honandar yang sebelumnya bernaung di NasDem, Wakil Wali Kota Kotamobagu Rendy Virgiawan Mangkat dari Golkar, serta delapan staf khusus gubernur, termasuk mantan Sekretaris PSI Sulut Kristo Ivan Ferno Lumentut.
Direktur Executive Partner Politik Indonesia Abubakar Solissa menilai, fenomena perpindahan kader antarpartai bukan hal baru dalam politik nasional.
Perpindahan kader partai ke partai lain sudah menjadi fenomena politik di Indonesia sejak reformasi bergulir. Banyak tokoh-tokoh penting dan populer yang memutuskan pindah dari partai asalnya disebabkan oleh banyak faktor,”
kata Solissa kepada owrite.id.
Menurutnya, terdapat sejumlah alasan utama yang mendorong seorang politisi mengambil langkah tersebut.
Menurut saya, ada empat faktor penting yang membuat seseorang itu harus memilih hengkang ke partai lain,”
ucapnya.
Pertama, peluang elektoral. Peluang terpilih atau bisa masuk di parlemen menjadi faktor penting. Pasalnya, sambung Sollisa, keberadaan seseorang di partai tidak terlalu membawa optimisme untuk kepentingannya di pemilu mendatang dapat tercapai.
Kedua, konflik internal. Adanya konflik di internal partai yang membuat seseorang tidak nyaman melanjutkan perjuangan politiknya, sehingga migrasi ke partai lain menjadi pilihan yang tepat untuk diambil.
Diakui Solissa, perbedaan arah politik turut menjadi alasan lain yang tidak kalah penting, hingga seseorang memilih pindah ke partai lain.
“Ketiga, perbedaan pandangan politik. Faktor kecocokan terhadap arah dan kebijakan partai, perubahan haluan partai, atau berpindahnya loyalitas kepada tokoh elit tertentu di luar partai disinyalir menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang memilih keluar dari partai,”
ungkapnya.
Dan yang keempat, adanya kekecewaan terhadap kepemimpinan di partai. Ketidakpuasan terhadap gaya pengelolaan partai yang dinilai terlalu otoriter, sentralistik, tidak adanya transparansi hingga berjarak dengan nilai-nilai demokrasi yang di anut di Indonesia.
Kalkulasi Politik
Solissa menilai, keputusan sejumlah tokoh di Sulawesi Utara bergabung dengan Gerindra tak lepas dari kalkulasi politik terhadap kekuatan partai tersebut saat ini.
Mungkin keempat politisi itu menghitung peluang mereka sangat besar lolos ke parlemen jika bergabung dengan partai Gerindra yang saat ini menjadi penguasa di republik ini,”
bebernya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa fenomena ini merupakan hal yang lazim dalam dinamika politik Indonesia.
Intinya kepindahan politisi dari partai satu ke partai lain itu hal yang biasa, apalagi ada diantara mereka sudah beberapa kali pindah partai. Itu hal biasa ya,”
tutupnya.
Perpindahan ini memperlihatkan bagaimana arah angin politik mulai terbaca oleh para elite daerah, sekaligus menjadi sinyal bahwa kontestasi politik ke depan akan semakin kompetitif.

