Pemerintah terus mempersiapkan implementasi mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang diklaim mampu memperkuat ketahanan energi nasional dan menghemat devisa hingga ratusan triliun rupiah. Kebijakan tersebut nantinya akan dijalankan secara bertahap, mulai dari evaluasi teknis, kesiapan industri, hingga penguatan ekosistem energi nasional.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyampaikan program biodiesel merupakan salah satu kebijakan strategis nasional yang telah memberikan kontribusi nyata bagi negara.
Program biodiesel menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan energi dalam negeri sekaligus mendukung transisi energi Indonesia secara bertahap dan berkelanjutan,”
kata Eniya saat ditemui di Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.
Realisasi B40 Diklaim Beri Manfaat Ekonomi Besar

Lebih lanjut, Eniya menjelaskan implementasi mandatori biodiesel sejak 2015 telah berkontribusi dalam memperkuat pasar domestik, menjaga stabilitas industri sawit nasional, serta mendukung perekonomian nasional di tengah dinamika pasar global.
Pada implementasi B40 tahun 2025, realisasi penyaluran biodiesel tercatat mencapai 14,94 juta kL atau sekitar 95,67 persen dari total alokasi sebesar 15,61 juta kL.
Implementasi tersebut turut memberikan manfaat berupa penghematan devisa sekitar Rp133,3 triliun, peningkatan nilai tambah sebesar Rp20,92 triliun, penyerapan tenaga kerja sekitar 1,88 juta orang, serta kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 39,66 juta ton CO2.
Capaian tersebut mencerminkan kontribusi biodiesel dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,”
tambah Eniya.
Pemerintah Lakukan Pengujian di Berbagai Sektor
Sejalan dengan rencana implementasi B50, pemerintah juga memastikan seluruh tahapan dilakukan secara hati-hati melalui evaluasi dan pengujian teknis sesuai standar yang berlaku.
Pengujian saat ini dilakukan pada berbagai sektor, seperti otomotif, alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, dan perkeretaapian guna memastikan implementasi berjalan aman sesuai kebutuhan operasional di lapangan.
Melalui pemanfaatan energi domestik dan penguatan kolaborasi lintas sektor, Indonesia ingin membangun sistem energi yang semakin mandiri, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,”
tutup Eniya.


