Unggahan seorang pengguna Threads dengan akun @theolawp menjadi perhatian warganet setelah membagikan pengalamannya terserang campak hanya tiga hari sebelum menghadiri konser F4.
Dalam unggahannya, ia mengaku sempat pasrah dan mengikhlaskan kemungkinan tidak bisa menonton konser karena kondisi tubuhnya yang dipenuhi ruam campak serta risiko penularan penyakit yang cukup tinggi.
Unggahan tersebut pun menuai beragam respons dari warganet dan kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya campak sebagai penyakit yang sangat mudah menular.
Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat menyebar dengan cepat melalui percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Dalam beberapa kasus, campak bahkan dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak, lansia, dan individu dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Respon Warganet
Beragam tanggapan pun bermunculan di kolom komentar. Warganet menyoroti bahaya campak sebagai penyakit yang mudah menular. Tidak sedikit pula yang mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan menghindari aktivitas di tempat ramai ketika masih dalam masa penularan.
“Gak mikir kalau ada yg lagi ada ibu yg masih kasih ASI ke bayiknya dan ada yg lagi hamil nonton …. kacau,”
tulis @ meilanihutapea90.
“Itu kan konsepnya duduk ya, coba dilacak si cewe ini duduk dengan siapa aja, lalu pas ke sana ketemu siapa aja, dimulai dari rumahnya,”
ungkap @bangrw.official.
“justru campak itu menularnya ketika sudah mulai2 hilang ruamnya.. wah kacau sih…”
tulis @melody0cha.
Respon Dokter di Thread
Unggahan tersebut juga memicu perhatian kalangan tenaga kesehatan. Salah satunya datang dari dr. Adam Prabata, Ph.D in Medical Sciences, dokter yang tengah menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam, melalui akun Threads pribadinya.
Dalam unggahannya, dr. Adam mengaku geram setelah membaca kisah tersebut. Ia mengingatkan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular.
“Campak itu salah satu penyakit yang penularannya cepat banget. Dengan satu orang bisa menularkan ke 12-18 orang di sekitarnya,”
tulisnya.
Kata Dokter Soal Penularan Campak
Dokter Adam menjelaskan bahwa masa penularan campak berlangsung sejak empat hari sebelum ruam, hingga empat hari setelahnya. Karena itu, apabila seseorang menghadiri acara yang melibatkan kerumunan besar saat masih berada dalam masa penularan, risiko penyebaran virus menjadi sangat tinggi.
Ia juga menilai hal tersebut perlu menjadi perhatian serius, mengingat berbagai negara, termasuk Indonesia, masih berupaya menekan angka penularan campak melalui program vaksinasi dan edukasi kesehatan masyarakat.
Tahapan Infeksi Campak
Melansir dari laman Halodoc, perkembangan infeksi campak biasanya berlangsung dalam beberapa tahap. Setelah masa inkubasi tanpa gejala, penderita akan mengalami gejala awal seperti demam, batuk, pilek, dan peradangan pada mata selama 2–3 hari.
Selanjutnya, muncul ruam merah yang dimulai dari wajah lalu menyebar ke leher, tangan, dan seluruh tubuh. Pada fase ini, suhu tubuh dapat meningkat hingga mencapai 40–41 derajat Celsius. Penderita juga berada dalam masa yang sangat menular, yakni sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya.
Seiring proses pemulihan, ruam akan berangsur menghilang mulai dari wajah hingga bagian tubuh lainnya dan gejala pun perlahan mereda.
Risiko Penularan Campak
Sebagian besar penderita campak dapat pulih dalam beberapa hari. Namun, pada sebagian kasus, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius, antara lain:
- Dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh akibat demam, muntah, atau diare.
- Dapat menyebabkan suara serak dan gangguan pernapasan.
- Infeksi telinga, terutama sering terjadi terutama pada anak-anak dan dapat mengganggu pendengaran.
- Menyebabkan mata merah, nyeri, atau gangguan penglihatan sementara.
- Paru-paru basah (pneumonia), merupakan salah satu komplikasi campak yang paling berbahaya.
- Kejang-kejang bisa terjadi akibat demam tinggi atau komplikasi lain yang menyertai infeksi.
Pada ibu hamil yang belum mendapatkan vaksinasi campak, infeksi ini juga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga kematian janin.
Kasus yang viral di media sosial ini menjadi pengingat bahwa campak bukan sekadar penyakit yang ditandai dengan munculnya ruam merah pada kulit.
Maka itu, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala campak dan menghindari aktivitas yang berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain saat masih berada dalam masa infeksi.
Selain menjaga kebersihan dan menerapkan etika batuk serta bersin, vaksinasi juga tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran campak di masyarakat.
