Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak amblas dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menuai sorotan dari kalangan ekonom, yang menilai bahwa investor sudah mulai kehilangan kepercayaan terhadap arah kebijakan dan tata kelola ekonomi nasional.
Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini mengatakan pasar modal kini terjungkal dan telah mendekati krisis 2008, pasalnya IHSG dari indeks 9.200 kini turun drastis menjadi 5.900. Bahkan saham perbankan seperti BCA turun nilainya lebih 50 persen, karena investor asing kabur.
“Ini menandakan ada masalah yang sangat mendalam, yakni kepercayaan investor yang jatuh ke jurang tidak mau hadir lagi di pasar Indonesia. Substansi penting di balik angka-angka tadi adalah masalah trust yang belum hadir di pasar,”
ujar Didik dalam keterangan resmi, Sabtu, 6 Juni 2026.
Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, IHSG ambruk 4,20 persen ke level 5.594. Sedangkan nilai tukar rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Intervensi Tak Manjur
Didik menuturkan Bank Indonesia yang bertanggung jawab atas sektor moneter telah mengguyur pasar dan menguras devisa, tapi pasar dan investor tidak bergeming. Pasar saham dan rupiah tetap saja melemah.
Meski angka pertumbuhan Indonesia tumbuh dan indikator perdagangan cukup baik, namun jatuhnya kepercayaan investor terhadap pemerintah membuat intervensi Bank Indonesia menjadi tak ampuh.
“Sebaliknya, banyak negara memiliki defisit anggaran atau utang yang tinggi, tetapi mata uangnya tetap kuat karena investor percaya pada kredibilitas pemerintah dan institusinya. Jadi, kepercayaan harus dibangun dan harus ada sikap sense of crisis terhadap keadaan,”
tegas Didik.
Saat ini pasar menunggu jawaban terhadap sejumlah pertanyaan mendasar terkait apakah kebijakan ekonom akan dijalankan konsisten, tidak berubah, dan dipengaruhi kepentingan politik.
Selain itu, investor mencermati apakah fiskal akan dikelola secara hati-hati dan transparan. Kemudian pasar melihat apakah lembaga negara yang independen menjalankan fungsi dan menjaga kredibilitasnya?
Kepastian Hukum
Didik berpendapat investor juga mencermati terkait kepastian hukum di dalam negeri. Mereka ingin memastikan hak kepemilikan dan investasi mendapatkan perlindungan yang kuat.
“Jika semua masalah dari pertanyaan tadi bisa dijawab, maka kepercayaan akan hadir, pasar akan pulih, investor datang kembali, seperti Presiden Habibie menjalankannya pada masa krisis hebat dahulu,”
terang dia.
Namun, bila muncul keraguan terhadap aspek-aspek tersebut, premi risiko Indonesia naik dan investor meminta kompensasi yang lebih tinggi atau memilih keluar.
Berdasar pengalaman, saat pemerintahan Presiden BJ Habibie melakukan sejumlah langkah, rupiah menguat dari Rp16.800 per dolar AS, menjadi Rp6.500 per dolar AS.
“Waktu itu Pak Habibie menjalankan berbagai reformasi pasca krisis, dari penguatan demokrasi, pembebasan tahanan politik, pembentukan bank sentral yang independen, hingga lahirnya regulasi anti monopoli,”
tutur Didik.
Kondisi yang terjadi saat ini sudah terang benderang terlihat. Permasalahan kepercayaan menjadi titik pangkal masalah, walaupun dipicu oleh krisis global sebelumnya.
“Karena masalah kepercayaanlah, investor asing bereaksi spontan mengurangi eksposur inilah yang menyebabkan indeks terjungkal. Mereka sudah untung selama ini, daripada berat risikonya ke depan maka lebih baik keluar. Permintaan dolar naik dan otomatis rupiah melemah untuk mengatasi hal ini, kepercayaan harus dibangun kembali,”
kata dia.

