Amien Rais kembali mengritik keras gaya komunikasi dan pidato Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu emosional dan kerap tanpa kerangka yang jelas.
Amien mengingatkan bahwa posisi presiden berbeda dengan jabatan militer yang pernah diemban Prabowo pada masa lalu. Maka ekspresi kemarahan yang ditunjukkan dengan menggebrak meja atau podium tidak lagi relevan untuk seorang kepala negara.
Jika tidak terpaksa sekali, jangan gebrak-gebrak meja atau podium, menampakkan sedang marah,”
kata Amien lewat video pendeknya, Senin, 8 Juni 2026.
Beda dengan Tentara
Amien menilai gaya kepemimpinan yang mungkin efektif ketika berada di lingkungan militer belum tentu cocok diterapkan saat memimpin sebuah negara dengan ratusan juta penduduk.
Dahulu boleh-boleh saja ketika sedang jadi Komandan Kopassus atau Komandan Kostrad, tidak ada masalah,”
ucap dia.
Namun, sebagai Presiden Republik Indonesia, eks Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu menganggap sikap tersebut justru berpotensi mengurangi wibawa seorang kepala negara di mata publik.
Presiden Indonesia itu kurang pas kalau sedang marah sambil gebrak meja,”
tegas Amien.
Tak Berdosa, Cuma Diam
Ia bahkan menyebut meja atau podium yang menjadi sasaran luapan emosi tidak memiliki kesalahan apa pun, sehingga tindakan tersebut menciptakan kesan negatif terhadap kepemimpinan nasional.
Menggebrak meja yang tak bersalah dapat mengurangi wibawa atau merusak citra kepala negara dari 288 juta (penduduk) Indonesia lebih,”
jelasnya.
Tak berhenti di situ, Amien juga menyoroti kebiasaan pidato yang terlalu sering dilakukan tanpa struktur pemikiran yang jelas. Seharusnya seorang presiden memiliki arah, substansi, dan kerangka yang kuat, bukan sekadar melontarkan banyak kalimat untuk memuaskan diri sendiri.
Suka pidato, terlepas didengarkan orang atau tidak, pidatonya bermutu atau tidak, tetapi merasa puas karena sudah mengumbar omongan tanpa kerangka, bisa gelagapan ke sana ke mari,”
tutur Amien.


