Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai sikap Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka yang belakangan jarang merespons kritik publik atas program unggulan pemerintah memunculkan persepsi publik.
Peran Gibran pun dipersepsikan mulai terpinggirkan dalam pemerintahan Prabowo Subianto.
Meski banyak juga yang mengatakan, terutama di media sosial, bahwa secara simbolik itu dianggap sebagai tanda-tanda bahwa peran-peran Wakil Presiden sudah mulai terpinggirkan,”
kata Adi Prayitno saat dihubungi Owrite, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurut Adi, minimnya keterlibatan Gibran dalam merespons berbagai isu nasional juga ikut membentuk anggapan bahwa posisi politik Wakil Presiden mulai bergeser.
Dan sepertinya publik melihat itu. Belakangan ini, misalnya, Wakil Presiden kita kan jarang bicara mengenai isu-isu strategis,”
ujar Adi
Ia mencontohkan saat Presiden Prabowo menghadapi kritik terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, maupun demonstrasi yang menuntut penghentian sejumlah program pemerintah, Gibran dinilainya tidak banyak tampil memberikan penjelasan atau pembelaan di ruang publik.
Ketika Presiden dikritik soal MBG, Koperasi Desa Merah Putih, ataupun tuntutan agar program itu dihentikan karena terjadi demonstrasi di banyak tempat, Wakil Presiden terkesan tidak memberikan pembelaan dalam konteks itu,”
jelasnya.
Dikatakan Adi, kondisi itu membuat sebagian masyarakat mengaitkan posisi Gibran dengan dugaan berkurangnya peran politik di pemerintahan. Bahkan, kata dia, muncul pula spekulasi mengenai hubungan politik antara Presiden dan Wakil Presiden.
Jadi wajar kalau kemudian banyak yang mengaitkan bahwa peran Wakil Presiden mulai terpinggirkan. Bahkan ada juga yang lebih ekstrem, yaitu mengaitkannya dengan kemungkinan pecah kongsi dan seterusnya. Jadi tergantung bagaimana membaca posisi duduk itu,”
ujar Dosen Universitas UIN Syarif Hidayatulah Jakarta itu.
Lebih lanjut, Adi menyampaikan munculnya pandangan terkait posisi duduk Gibran yang terpisah dari Prabowo dalam rapat sidang kabinet menuai polemik. Pihak Istana menyebut hal tersebut murni persoalan teknis.
Iya. Pertama, kan ada dua pandangan yang berbeda. Kalau kita mendengarkan pernyataan dari juru bicara Istana, sebenarnya itu hanya soal teknis biasa saja,”
ujarnya.
Jadi tidak ada yang kemudian bisa dikait-kaitkan dengan urusan kepentingan-kepentingan politik apa pun. Karena Presiden, katanya, sedang membutuhkan teleprompter untuk menampilkan data-data penting,”
tambahnya.
Meski demikian, Adi mengingatkan sudah ada penjelasan resmi dari Istana yang menyatakan tidak ada persoalan dalam hubungan Prabowo dan Gibran.
Kalau mengamini apa yang disampaikan juru bicara Istana, ya hubungan keduanya baik-baik saja,”
tuturnya.
























