Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Gibran Jarang Bela Program Prabowo yang Dikritik, Hubungan Mulai Retak?

kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mengaitkan posisi Gibran dengan dugaan berkurangnya peran politik di pemerintahan.

Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025). (Sumber: Antara Foto/Galih Pradipta/YU)

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai sikap Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka yang belakangan jarang merespons kritik publik atas program unggulan pemerintah memunculkan persepsi publik.

Peran Gibran pun dipersepsikan mulai terpinggirkan dalam pemerintahan Prabowo Subianto.

Meski banyak juga yang mengatakan, terutama di media sosial, bahwa secara simbolik itu dianggap sebagai tanda-tanda bahwa peran-peran Wakil Presiden sudah mulai terpinggirkan,”

kata Adi Prayitno saat dihubungi Owrite, Jumat, 24 Juli 2026.

Menurut Adi, minimnya keterlibatan Gibran dalam merespons berbagai isu nasional juga ikut membentuk anggapan bahwa posisi politik Wakil Presiden mulai bergeser.

Iklan

Dan sepertinya publik melihat itu. Belakangan ini, misalnya, Wakil Presiden kita kan jarang bicara mengenai isu-isu strategis,”

ujar Adi

Ia mencontohkan saat Presiden Prabowo menghadapi kritik terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, maupun demonstrasi yang menuntut penghentian sejumlah program pemerintah, Gibran dinilainya tidak banyak tampil memberikan penjelasan atau pembelaan di ruang publik.

Ketika Presiden dikritik soal MBG, Koperasi Desa Merah Putih, ataupun tuntutan agar program itu dihentikan karena terjadi demonstrasi di banyak tempat, Wakil Presiden terkesan tidak memberikan pembelaan dalam konteks itu,”

jelasnya.

Dikatakan Adi, kondisi itu membuat sebagian masyarakat mengaitkan posisi Gibran dengan dugaan berkurangnya peran politik di pemerintahan. Bahkan, kata dia, muncul pula spekulasi mengenai hubungan politik antara Presiden dan Wakil Presiden.

Jadi wajar kalau kemudian banyak yang mengaitkan bahwa peran Wakil Presiden mulai terpinggirkan. Bahkan ada juga yang lebih ekstrem, yaitu mengaitkannya dengan kemungkinan pecah kongsi dan seterusnya. Jadi tergantung bagaimana membaca posisi duduk itu,”

ujar Dosen Universitas UIN Syarif Hidayatulah Jakarta itu.

Lebih lanjut, Adi menyampaikan munculnya pandangan terkait posisi duduk Gibran yang terpisah dari Prabowo dalam rapat sidang kabinet menuai polemik. Pihak Istana menyebut hal tersebut murni persoalan teknis.

Iya. Pertama, kan ada dua pandangan yang berbeda. Kalau kita mendengarkan pernyataan dari juru bicara Istana, sebenarnya itu hanya soal teknis biasa saja,”

ujarnya.

Jadi tidak ada yang kemudian bisa dikait-kaitkan dengan urusan kepentingan-kepentingan politik apa pun. Karena Presiden, katanya, sedang membutuhkan teleprompter untuk menampilkan data-data penting,”

tambahnya.

Meski demikian, Adi mengingatkan sudah ada penjelasan resmi dari Istana yang menyatakan tidak ada persoalan dalam hubungan Prabowo dan Gibran.

Kalau mengamini apa yang disampaikan juru bicara Istana, ya hubungan keduanya baik-baik saja,”

tuturnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.