Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, perekonomian Indonesia saat ini mulai memasuki fase krisis, sejalan dengan ambruknya pasar saham dan nilai tukar rupiah.
Pada pembukaan perdagangan Senin, 8 Juni 2026 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,82 persen ke level 5.381. Sedangkan rupiah amblas 0,57 persen ke level Rp18.138 per dolar Amerika Serikat (AS).
Perekonomian Indonesia, memasuki fase krisis ekonomi. Target minggu ini di Rp18.250 kemungkinan tercapai,”
ujar Ibrahim kepada wartawan Senin, 8 Juni 2026.
Ibrahim memproyeksikan, nilai tukar rupiah akan menembus level Rp19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026. Sementara IHSG juga diperkirakan akan mencapai level kritis di 4.000 di akhir bulan ini.
Biang Kerok
Ibrahim mengungkapkan, penyebab amblasnya rupiah dan IHSG ini karena kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran. Kemudian juga berasal dari kemungkinan Bank Sentral AS atau the Fed mempertahankan suku bunga tinggi di tahun ini.
Ada kemungkinan Iran akan melakukan penyerangan terhadap Israel. Nah, dari informasi itu membuat dolar menguat, kemudian harga minyak juga naik,”
jelasnya.

Dari sisi internal, Ibrahim mengkhawatirkan kondisi neraca berjalan RI di tengah kenaikan harga minyak mentah. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan akan mendekati batas 3 persen.
Kalau neraca berjalan terpengaruh, berarti akan memengaruhi defisit anggaran. Defisit anggaran kemungkinan besar akan mendekati 3 persen,”
terangnya.
Ibrahim juga menyoroti, inflasi RI yang terus mengalami kenaikan, dan diperkirakan pada Juni akan terkerek naik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2026 naik menjadi 3,08 persen secara year on year (yoy), dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,42 persen.
Selain itu, menyempitnya surplus perdagangan April yang hanya sebesar US$89,1 juta, dan penurunan peringkat utang Danantara oleh Moody’s juga menjadi faktor mengkhawatirkan.
Isu MSCI soal Frontier Market
Amblasnya nilai tukar dan IHSG juga disebabkan oleh isu bahwa Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan menurunkan saham-saham di pasar modal dari emerging market menjadi frontier market.
Ini sudah membuat rupiah dan IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kita harus tahu bahwa dalam perdagangan hari ini harus keluar modal sangat besar di pasar modal, karena merosotnya mata uang rupiah,”
terangnya.

Ibrahim mengatakan, merosotnya nilai tukar terjadi di tengah keresahan investor atas banyaknya agenda dari Presiden Prabowo Subianto. Hal yang disorot diantaranya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga kenaikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kita harus tahu bahwa bahan bakar yang disubsidi 85 persen ini membutuhkan dolar yang cukup besar, harus diingat di APBN itu di Rp16.500, kemudian minyaknya di US$70 per barrel, Sehingga pemerintah harus mengeluarkan dana yang cukup besar,”
imbuhnya.




