Sebuah laporan dari Institut Penelitian Perdamaian Oslo (PRIO) Norwegia, yang dipublikasikan pada Selasa, 9 Juni 2026, mengungkapkan bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) menjadi salah negara paling banyak yang terlibat konflik pada 2025.
Laporan tersebut mengacu dengan keterlibatan Israel dalam setidaknya lima konflik di tahun tersebut. Hasil studi itu juga mengacu dengan jumlah perang antarnegara tertinggi sejak Perang Dunia Ke-II.
Israel jelas merupakan salah satu negara paling agresif di dunia saat ini, merujuk pada keterlibatannya dalam berbagai jenis konflik di Gaza, Suriah, Lebanon, melawan Iran, dan melawan milisi Houthi,”
kata peneliti studi Norwegia Siri Aas Rustad, dikutip dari Arab News, Selasa, 9 Juni 2026.
Ada 65 Konflik di Seluruh Dunia pada 2025
Laporan tahunan dengan judul “Tren Konflik” itu menyatakan bahwa terdapat 65 konflik tercatat di seluruh dunia tahun lalu. Ini merupakan sebuah rekor tertinggi sejak tahun 1946.
Laporan itu juga menunjuk Amerika Serikat (AS), dengan mengatakan bahwa kembalinya Presiden Donald Trump ke tampuk kekuasaan telah membawa serangan, peningkatan kekerasan, serta hambatan perdagangan yang mereka terapkan.
Kita sedang membatasi kolaborasi. Dewan Keamanan (PBB) saat ini tidak berfungsi. Kita mendapatkan dunia yang jauh lebih terpolarisasi,”
ujar Rustad.
Konflik antar negara juga mencapai puncak baru dalam 80 tahun terakhir, meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi delapan, termasuk bentrokan perbatasan antara India dan Pakistan, Afghanistan dan Pakistan, Kamboja dan Thailand, serta invasi Rusia ke Ukraina dan operasi militer Israel terhadap Suriah.
Sayangnya, tidak banyak hal positif. Biasanya saya bisa menemukan sesuatu yang positif dari situ, tetapi tahun ini angkanya sangat mengejutkan,”
jelas Rustad.

2025 Tahun Mematikan Sejak Berakhirnya Perang Dingin
Tahun lalu merupakan tahun ketiga paling mematikan sejak berakhirnya Perang Dingin, dengan sekitar 245.000 kematian yang terkait langsung dengan pertempuran atau kekerasan politik, serta hampir 76.500 di antaranya disebabkan oleh serangan yang secara langsung menargetkan warga sipil.
Peningkatan tajam jumlah kematian warga sipil juga disebabkan oleh konflik antara tentara dan paramiliter di Sudan, di mana pengepungan dan pembantaian yang dilakukan di kota El-Fasher di wilayah Darfur diperkirakan telah menewaskan sekitar 60.000 orang.
Sejak berakhirnya Perang Dingin, hanya tahun 1994 dan 2021 yang menyaksikan lebih banyak pertumpahan darah, masing-masing karena genosida Rwanda dan perang di wilayah Tigray, Ethiopia.
Yang terjadi dalam lima atau enam tahun terakhir adalah kita memiliki beberapa konflik besar yang terjadi secara bersamaan dan tampaknya konflik-konflik tersebut saling menggantikan. Dunia tidak mendapat jeda sama sekali. Dan itu berbeda dari sebelumnya, tingkat konflik intensitas tinggi yang terus-menerus terjadi secara global,”
kata Rustad.
Sebagai informasi, studi PRIO ini didasarkan pada angka-angka yang dikumpulkan oleh Program Data Konflik Uppsala (UCDP), yang berafiliasi dengan Universitas Uppsala.
Klasifikasi tersebut membedakan tiga jenis utama kekerasan terorganisir: konflik yang melibatkan setidaknya satu negara, konflik non-negara, dan kekerasan sepihak terhadap warga sipil.
Afrika juga tetap menjadi wilayah yang paling terdampak oleh jenis konflik pertama dengan 29 kasus, diikuti oleh Asia, Timur Tengah, Amerika, dan Eropa.

