Iran menolak secara tegas gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat (AS) sebelum tuntutannya terkait Selat Hormuz dipenuhi. Di saat yang sama, Teheran memperingatkan akan memperluas konflik jika kembali diserang.
Sementara itu, seorang komandan militer Iran mengancam setiap warga Iran yang tewas akan dibalas dengan kematian seorang personel militer AS.
Selama tujuan dan tuntutan sah rakyat Iran belum tercapai, sudah sewajarnya kami akan terus melanjutkan langkah kami,”
kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dikutip dari Anadolu Agency, Senin, 27 Juli 2026.
Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan, ancaman, atau intimidasi dan akan terus mempertahankan kepentingannya, termasuk terkait Selat Hormuz.
Selat Hormuz Jadi Titik Perselisihan
Araghchi mengatakan Pakistan telah menyampaikan sejumlah usulan sebagai mediator, namun menurutnya persoalan antara Teheran dan Washington bukan soal mediasi, melainkan soal pendekatan Amerika terhadap Iran.
Ia menegaskan bahwa posisi Iran tetap tidak berubah selama tuntutan yang dianggap sah oleh Teheran belum dipenuhi.


Iran Intensif Berkoordinasi dengan Rusia dan China
Ia juga mengatakan konsultasi dengan Rusia dan China masih berlangsung. Menurutnya, ia telah mengadakan pembicaraan mendalam dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela pertemuan SCO.
Sementara itu, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi sebelumnya juga membawa proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat saat berkunjung ke Teheran setelah bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Menurut laporan tersebut, Iran menolak proposal itu karena tidak mengakomodasi tuntutan mengenai penguasaan Selat Hormuz. Meski demikian, laporan itu hingga kini belum dikonfirmasi oleh otoritas Iran.























