Bank Indonesia (BI) melaporkan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 merosot. IKK tercatat turun menjadi 120,9 dari bulan sebelumnya yang sebesar 123,0.
Kepala Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso mengatakan, meski mengalami penurunan, IKK tetap berada pada level optimis. Hal tersebut ditopang oleh tetap kuatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini, dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan.
IKK Mei 2026 berada pada level optimis sebesar 120,9, meskipun lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 123,0,”
tulis laporan BI Rabu, 10 Juni 2026.
Persepsi Konsumen Turun
Berdasarkan laporan BI, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang tecermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun menjadi 112,2 pada Mei 2026, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 116,5. Namun, IKE Mei 2026 masih berada pada level optimis dengan indeks lebih dari 100.
Adapun untuk Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) yang tercatat masing-masing sebesar 123,2, 105,0, dan 108,3. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 128,1, 108,8, dan 112,6.

Ekspektasi Konsumen Naik
Adapun untuk ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diperkirakan sedikit meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Mei 2026 sebesar 129,7, atau naik tipis dibandingkan sebelumnya yang sebesar 129,6.
Meningkatnya IEK bersumber dari optimisme ekspektasi ketersediaan lapangan kerja dan ekspektasi kegiatan usaha yang masing-masing tercatat sebesar 128,1 dan 124,5, atau lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 127,7 dan 124,1.
Sementara itu, ekspektasi penghasilan tercatat di level optimis sebesar 136,5, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 136,9,”
imbuhnya.
Respons Pemerintah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai meski IKK mengalami penurunan, angka tersebut masih bagus karena berada di atas 100.
IKK di atas 100, masih bagus,”
ujar Airlangga di Kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta.
Ketika ditanya dampak penurunan IKK ini, Airlangga hanya mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan monitoring. Ia menilai, penurunan IKK terjadi karena tidak adanya Lebaran Idul Fitri.
Ya, kita lihat aja. Tapi 120 masih bagus. Kemarin kan ada Lebaran, di kuartal II kan nggak ada Lebaran,”
tuturnya.


