Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai pengembangan program bioetanol berpotensi menimbulkan kerugian bagi konsumen, PT Pertamina (Persero), dan negara.
Penilaian tersebut muncul setelah harga Pertamax Green 95, yang mengandung campuran 5 persen bioetanol, naik lebih tinggi dibandingkan Pertamax reguler.
Diketahui, per 10 Juni 2026, harga Pertamax Green 95 naik 31,7 persen dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan tersebut melampaui Pertamax (RON 92) yang naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Tak Terbukti Buat Harga BBM Terjangkau

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira, menilai bahwa pencampuran bioetanol dalam bensin belum terbukti membuat harga bahan bakar lebih terjangkau.
Pertamina rugi dua kali karena pembayaran selisih harga riil dan harga keekonomian tak langsung dibayar sehingga menekan arus kas. Ujung-ujungnya adalah melonjaknya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sesungguhnya berasal dari pajak rakyat,”
kata Bhima dalam keterangan tertulis, Jumat, 12 Juni 2026.
Bhima menjelaskan, biaya pembukaan lahan dan tingginya ongkos logistik akan dibebankan oleh produsen saat menjual produk bioetanol ke Pertamina. Kondisi tersebut berisiko membuat harga bahan bakar berbasis bioetanol tetap mahal bagi konsumen.
Bahan Bakar Campuran Justru Lebih Mahal
Celios menilai, situasi itu menunjukkan bahwa pencampuran bioetanol dalam bensin belum tentu membuat harga bahan bakar lebih terjangkau. Sebaliknya, dalam kondisi krisis energi saat ini, harga bahan bakar yang mengandung campuran etanol justru mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan jenis BBM lainnya.
Selain dampak ekonomi, Bhima juga menyoroti konsekuensi sosial dan lingkungan dari pembukaan lahan untuk proyek bioetanol.
Pembukaan lahan deforestasi seharusnya juga dihitung masuk sebagai kerugian perekonomian dari pencampuran bioetanol. Jadi narasi bioetanol adalah narasi yang dipaksakan dalam konteks krisis energi saat ini,”
tegasnya.


