Pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang menyebut kenaikan harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar dunia menuai kritik dari kalangan akademisi.
Analis Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Faisal Sallatalohy mengatakan, penjelasan tersebut tidak menyentuh persoalan utama yang saat ini dihadapi masyarakat, yakni kemampuan daya beli rakyat terhadap harga energi yang terus meningkat.
Menurut Faisal, perdebatan mengenai harga BBM tidak bisa hanya berhenti pada alasan bahwa harga minyak dunia sedang naik. Pemerintah harus mempertimbangkan aspek keadilan ekonomi, terutama apakah harga yang ditetapkan masih sejalan dengan kondisi pendapatan masyarakat.
Saran kepada Presiden Prabowo. Seskab Teddy, sebaiknya diistirahatkan dulu, ditugaskan liburan, menghibur diri, jangan terlalu banyak ikut campur urusan negara, urusan rakyat yang tidak punya hubungan dengan kompetensi yang dia miliki,”
kata Faisal kepada Owrite.id, Minggu, 14 Juni 2026.
Saatnya Prabowo Dengarkan Pakar Ekonomi
Dijelaskannya, pemerintah seharusnya lebih banyak melibatkan pakar ekonomi, dan pihak-pihak yang memiliki kompetensi langsung dalam bidang kebijakan energi, serta ekonomi makro untuk memberikan masukan kepada Presiden.
Sudah waktunya, Presiden Prabowo mendengar saran, masukan, analisa dan solusi dari para pakar ekonomi yang ahli di bidangnya, teruji pemahaman dan pengalamannya,”
jelasnya.
Faisal menilai, persoalan harga BBM bukan sekadar soal mengikuti harga pasar internasional, tetapi juga menyangkut dampaknya terhadap inflasi, daya beli masyarakat, biaya logistik, hingga harga kebutuhan pokok yang ikut terdorong naik.
Karena itu, pejabat yang berbicara mengenai isu tersebut harus memahami secara menyeluruh dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh sebuah kebijakan.
Presiden Prabowo, lebih baik segera berhenti mendengar saran dan masukan Seskab Teddy, termasuk memberinya kewenangan untuk berbicara tentang isu penting negara yang berkaitan dengan hajat hidup rakyat banyak,”
tegasnya.
Semakin Sering Teddy Muncul Perburuk Citra Presiden
Lelaki penyandang doktor itu menilai, semakin sering Teddy tampil menjelaskan isu-isu strategis, semakin terbuka ruang publik untuk menilai arah dan karakter pemerintahan saat ini.
Semakin banyak Teddy bicara, semakin terlihat karakter kekuasaan Prabowo. Malas, tidak kreatif, tidak kompeten, tidak berkarakter,”
pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, mekanisme harga BBM di Indonesia pascareformasi memang mengacu pada prinsip pasar, sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, serta Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi. Namun dalam praktiknya, konsep yang digunakan adalah harga keekonomian yang tetap memperhatikan unsur keadilan.



