Setiap hari, kita berbicara kepada diri sendiri lebih sering daripada yang kita sadari. Mulai dari komentar kecil seperti, “aku emang enggak bisa” sampai “Pasti aku bakal gagal lagi.”
Masalahnya, enggak semua self-talk atau cara kita berbicara kepada diri sendiri itu sehat. Beberapa kalimat bahkan bisa diam-diam memengaruhi rasa percaya diri, cara kita melihat diri sendiri, dan kesehatan mental secara keseluruhan.
Kalau kamu sering mengatakan hal-hal berikut kepada diri sendiri, mungkin sudah saatnya mulai lebih memperhatikan pola pikirmu.
“Aku Emang Enggak Bisa”
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tapi bisa sangat membatasi. Saat menghadapi sesuatu yang sulit, banyak orang langsung menyimpulkan bahwa mereka memang tidak mampu. Padahal, belum tentu masalahnya ada pada kemampuan.
Psikolog Carol S. Dweck dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success (2006) menjelaskan bahwa orang dengan fixed mindset cenderung percaya kemampuan mereka bersifat tetap. Akibatnya, mereka lebih mudah menyerah saat menghadapi tantangan.
Mengganti “aku enggak bisa” menjadi “aku belum bisa” mungkin terdengar kecil, tapi bisa mengubah cara kita melihat proses belajar.
“Aku Selalu Gagal”
Perhatikan kata “selalu” saat satu hal tidak berjalan sesuai harapan, otak kita kadang langsung menarik kesimpulan yang sangat besar. Padahal kenyataannya, satu kegagalan tidak berarti seluruh hidup kita gagal.
Dalam terapi kognitif yang dikembangkan Aaron T. Beck melalui bukunya Cognitive Therapy and the Emotional Disorders (1976), pola berpikir seperti ini dikenal sebagai overgeneralization, yaitu mengambil satu pengalaman lalu menganggapnya berlaku untuk semua situasi.
Masalahnya, semakin sering dilakukan, semakin sulit kita melihat keberhasilan yang sebenarnya pernah kita capai.
“Aku Harus Sempurna”
Keinginan untuk melakukan yang terbaik itu wajar. Tapi ketika standar yang dipasang terlalu tinggi, hasilnya justru sering membuat seseorang terus merasa kurang.
Penelitian Thomas Curran dan Andrew P. Hill pada 2019 dalam artikel ilmiah Perfectionism Is Increasing Over Time menemukan bahwa kecenderungan perfeksionisme mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir, terutama pada generasi muda.
Perfeksionisme sering membuat seseorang fokus pada kekurangan, bahkan ketika hasil yang dicapai sebenarnya sudah sangat baik.
“Orang Lain Lebih Hebat Daripada Aku”
Media sosial membuat kita lebih mudah melihat pencapaian orang lain. Sayangnya, banyak orang lupa bahwa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Psikolog Leon Festinger menjelaskan, dalam Social Comparison Theory (1954) bahwa manusia memang memiliki kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Namun jika dilakukan terus-menerus kebiasaan ini dapat menurunkan kepuasan terhadap diri sendiri.
Tidak semua perlombaan harus diikuti. Tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi standar hidup kita.
Cara Kamu Bicara ke Diri Sendiri Itu Penting
Bayangkan ada teman yang melakukan kesalahan kecil lalu kamu langsung mengatakan, “kamu emang enggak bisa apa-apa” kemungkinan besar kamu tidak akan mengatakan hal itu. Tapi anehnya, banyak dari kita justru berbicara seperti itu kepada diri sendiri.
Bukan berarti kita harus selalu berpikir positif atau pura-pura bahagia setiap saat. Namun ada perbedaan antara jujur terhadap kesalahan dan terus-menerus menghukum diri sendiri. Karena pada akhirnya, suara yang paling sering kamu dengar setiap hari adalah suara di dalam kepalamu sendiri.
Dan suara itu seharusnya membantu kamu bertumbuh, bukan membuatmu semakin jatuh.
Pernah enggak sadar mengatakan salah satu kalimat di atas ke diri sendiri? Share artikel ini ke temanmu dan jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia untuk konten psikologi dan self-development lainnya!
