Pemerintah terus mempercepat pemulihan layanan kesehatan di wilayah Sumatra yang terdampak bencana hidrometeorologi. Meski sebagian besar puskesmas sudah kembali beroperasi, penguatan sarana dan prasarana dinilai masih menjadi kebutuhan mendesak.
Penguatan sarana itu penting agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa berlangsung secara optimal.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan percepatan pemulihan tak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan berbagai elemen lainnya menjadi faktor penting untuk memperkuat layanan Kesehatan terutama puskesmas yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di daerah.
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat seperti ini sangat penting dalam mempercepat pemulihan layanan kesehatan pascabencana, khususnya di tingkat puskesmas yang menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat,”
kata Budi dalam keterangan resminya, Minggu, 5 Juli 2026.
Budi menjelaskan pemerintah sudah mengalokasikan anggaran untuk memulihkan rumah sakit yang terdampak bencana. Sementara itu, penguatan fasilitas puskesmas terus diupayakan melalui berbagai bentuk kolaborasi dengan masyarakat serta pengajuan tambahan anggaran.
Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui penyaluran bantuan alat kesehatan atau alkes hasil kolaborasi Kementerian Kesehatan bersama kelompok Pemuda Sumatra Utara. Program ini diinisiasi oleh Pahala Nugraha Mansury, Bara Hasibuan, Veranita Yosephine Sinaga, bersama sejumlah relawan melalui penggalangan dana berbasis komunitas.
Bantuan yang disalurkan meliputi 40 unit tensimeter digital, 40 antropometri kit, 40 sterilisator kering, 40 tempat tidur pasien tiga engkol, 40 stetoskop dewasa, enam unit alat fogging, serta delapan dental unit.
Seluruh peralatan tersebut akan didistribusikan ke puskesmas di delapan kabupaten dan kota terdampak, yakni Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Langkat, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Agam.
Perwakilan donatur dari Pemuda Sumatra Utara, Bara Hasibuan, mengatakan bantuan tersebut berasal dari dana yang dihimpun melalui kegiatan charity run pada awal 2026 yang diikuti sekitar 2.000 peserta. Dana itu kemudian dialokasikan untuk membantu pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana di Aceh dan Sumatra Utara.
Kami berharap bantuan ini dapat membantu proses pemulihan layanan kesehatan masyarakat di daerah terdampak dan menjadi bagian dari semangat gotong royong untuk saling membantu sesama,”
ujar Bara.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur, Rijalul Fikri, menyebut bantuan alat kesehatan tersebut akan memperkuat kualitas pelayanan di wilayahnya yang sempat terdampak bencana.
Menurutnya, seluruh puskesmas di Aceh Timur kini telah kembali beroperasi secara normal. Namun, sejumlah fasilitas masih membutuhkan rehabilitasi dan peningkatan kapasitas agar pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal.
Rijalul mengatakan, salah satu fasilitas yang masih memerlukan perhatian adalah Puskesmas Lokop di Aceh Timur. Puskesmas rawat inap yang berada di kawasan pedalaman itu masih membutuhkan pembangunan gedung baru agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada masyarakat.
Di sisi lain, Ketua Tim Satgas Rehabilitasi Bencana Hidrometeorologi Sumatra, Sumarjaya, menilai penyaluran bantuan tersebut menjadi contoh nyata sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mempercepat pemulihan sektor kesehatan pascabencana.
Ia berharap pola kolaborasi seperti ini bisa terus diperluas untuk memperkuat ketahanan sistem pelayanan kesehatan di daerah rawan bencana. Melalui kerja sama lintas sektor, Kementerian Kesehatan juga terus mendorong penguatan sistem kesehatan nasional dengan melibatkan masyarakat, komunitas, dan dunia usaha dalam mendukung pemulihan layanan kesehatan di berbagai daerah.

























