Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit Rp196,5 triliun pada semester I-2026. Defisit itu sebesar 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dari target 2026 yang dipatok sebesar 2,68 persen.
Purbaya mengatakan, meski APBN pada semester I-2026 mengalami defisit 0,76 persen, tetapi masih bisa dijaga dalam batas aman dan terkendali.
Defisit APBN semester I-2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun dengan persentase sebesar 0,76 persen terhadap PDB. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali,”
ujar Purbaya dalam rapat bersama Banggar di Jakarta, pada Selasa, 7 Juli 2026.
Realisasi Belanja Lebih Besar


Adapun defisit APBN semester I-2026 ini dikarenakan realisasi belanja lebih besar dibandingkan penerimaan. Untuk pendapatan negara realisasinya sebesar Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target 2026 yang sebesar Rp3.153,6 triliun. Pendapatan ini tumbuh 21,4 persen secara year on year (yoy).
Bila dirinci, realisasi pendapatan negara terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun atau tumbuh 21,4 persen, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp459,2 triliun.
Purbaya menjelaskan, kinerja pendapatan negara itu dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas ekonomi, peningkatan pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan K/L dan Badan Layanan Umum (BLU).
Belanja Negara Dongkrak Ekonomi
Sedangkan untuk belanja negara realisasinya di semester I-2026 sebesar Rp1.656,0 triliun atau 43,1 persen dari target APBN yang senilai Rp3.842,7 triliun, atau tumbuh 17,8 persen.
Belanja negara ini terdiri dari, belanja pemerintah pusat realisasinya sebesar Rp1.298,6 triliun atau tumbuh 29,4 persen, dan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp357,4 triliun atau tumbuh 11,2 persen.
Purbaya menuturkan untuk kinerja belanja ditujukan untuk mendorong perekonomian lebih tinggi, mendukung agenda pembangunan, dan program prioritas nasional.
























