Bank Indonesia (BI) buka-bukaan terkait biang kerok rupiah kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Penyebabnya adalah keputusan dan sikap dari para pejabat the Fed.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan meski the Fed tetap mempertahankan suku bunga, namun pelaku pasar mencermati sinyal hawkish dari pernyataan sejumlah pejabat the Fed.
Jadi sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang terutama tahun ini yang memang probabilitasnya adalah tidak lagi turun, tetapi akan naik,”
ujar Denny di Jakarta Selasa, 7 Juli 2026.
Kondisi ini kata Denny, membuat indeks DXY naik dari angka 95 di Januari menjadi 101 di akhir Juni 2026. Ia menyebut dolar indeks ke level 101 merupakan angka tertinggi dalam setahun terakhir.
Jadi kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat the Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap USD,”
tuturnya.
Lebih Baik dari Rusia


Denny justru membandingkan, kondisi rupiah dengan nilai tukar negara lainnya. Misalnya mata uang Rusia melemah 5,4 persen, Chile melemah sekitar 4 persen, Thailand Baht melemah 2,3 persen.
Kemudian Korean Won melemah 1 persen, Filipina Peso melemah 1 persen, India Rupee melemah 0,7 persen, dam China Renminbi melemah 0,5 persen. Sedangkan Indonesia rupiah kata Denny hanya melemah 1,4 persen.
Namun demikian, Denny memastikan bahwa Bank Indonesia akan maksimal menjaga agar rupiah tetap stabil dan menguat. BI katanya, akan berada di pasar selama 24 jam baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Bank Indonesia all out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa rupiah itu tetap akan stabil dan secara perlahan kita akan membuat rupiah itu menguat,”
imbuhnya.
Sebagai informasi, rupiah kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS pada Senin, 6 Juli 2026. Nilai tukar anjlok 0,24 persen ke level Rp18.007 pada pukul 13.59 WIB.
























