Tidak semua orang langsung memahami siapa dirinya sejak kecil. Namun bagi Merlyna Alycia Soebijanto, perasaan itu sudah hadir bahkan ketika usianya baru menginjak empat tahun.
Merlyna bercerita bahwa saat teman-temannya bermain menjadi tokoh laki-laki seperti Batman atau Superman, ia justru selalu memilih memerankan karakter perempuan. Dari situlah ia mulai menyadari bahwa dirinya merasa berbeda.
Meski begitu, perjalanan untuk menerima diri sendiri tidak terjadi dalam waktu singkat.
Saat berusia 20 tahun dan menempuh kuliah Teknik Sipil di Malang, Merlyna akhirnya mulai berani mengekspresikan identitasnya. Jauh dari keluarga membuatnya bertemu dengan komunitas yang membuatnya merasa diterima dan menemukan tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Keputusan itu kemudian membawanya pada percakapan penting dengan sang ayah.
Ketika ditanya apakah dirinya ingin kembali menjalani kehidupan sesuai kodrat fisik saat lahir, Merlyna dengan jujur menjawab bahwa ia tidak bisa. Ia menjelaskan bahwa sejak kecil dirinya memang selalu merasa sebagai seorang perempuan.
Jawaban tersebut ternyata tidak disambut dengan penolakan.
Sebaliknya, sang ayah memberikan restu sekaligus sebuah pesan yang terus diingat Merlyna hingga hari ini. Ia diminta untuk terus berprestasi agar orang lain menghargainya bukan karena penampilan, melainkan karena kemampuan dan pencapaiannya.
Pesan Menjadi Pegangan Dalam Perjalanan Hidup
Pada 1995, Merlyna berhasil memenangkan ajang Ratu Waria Indonesia. Meski bangga dengan pencapaian tersebut, ia sempat kecewa karena merasa ayahnya tidak menunjukkan respons seperti yang diharapkannya.
Barulah bertahun-tahun kemudian ia menyadari bahwa sikap sang ayah bukan karena tidak bangga, melainkan agar dirinya tidak cepat puas hanya dengan prestasi di dunia pageant.
Kesadaran itu membuat Merlyna terus berkembang. Ia kemudian aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk terlibat dalam program penanggulangan HIV di tingkat nasional. Di situlah ia merasa benar-benar memenuhi pesan yang pernah disampaikan sang ayah.
Perjalanan Hidupnya Kembali Diuji
Setelah bekerja selama sepuluh tahun, Merlyna kehilangan pekerjaannya. Masa tersebut menjadi salah satu periode paling berat dalam hidupnya.
Ia mengaku sempat mengalami keputusasaan hingga mencoba mengakhiri hidup dua tahun lalu.
Selama hampir dua tahun, ia hidup tanpa penghasilan tetap dan menghadapi berbagai ketidakpastian. Meski demikian, ia perlahan bangkit berkat dukungan orang-orang di sekitarnya dan keyakinan bahwa hidupnya masih memiliki tujuan.
Kini, di usia 54 tahun, Merlyna kembali bekerja dan memilih memaknai semua pengalaman yang pernah dilaluinya sebagai bagian dari proses kehidupan.
Baginya, selama masih diberi kesempatan untuk hidup, berarti masih ada hal baik yang bisa dilakukan dan masih ada orang lain yang dapat dibantu.
Perjalanan Merlyna Alycia menunjukkan bahwa menerima diri sendiri bukanlah proses yang instan. Di balik berbagai tantangan, kehilangan, dan masa-masa sulit, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan menemukan makna baru dalam hidup.
Kalau kamu ingin mendengar langsung kisah lengkap Merlyna Alycia, kamu bisa menonton video selengkapnya di sini. Jangan lupa share artikel ini kepada orang-orang terdekatmu, dan follow Instagram @sefruitmedia untuk mendapatkan cerita inspiratif dan konten menarik lainnya.










