Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha meminta PT PLN (Persero) mengevaluasi daya mampu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di seluruh Indonesia.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mendeteksi potensi gangguan operasional yang dapat memengaruhi keandalan pasokan listrik. Permintaan itupun telah disampaikan Satya kepada Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.
Saya sampaikan juga ke Direktur Utama PLN (Darmawan Prasodjo) beberapa waktu lalu, coba dicek daya mampunya,”
kata Satya dalam diskusi bertajuk Menjaga Pasokan Batu bara untuk Kebutuhan Nasional melalui akun Youtube resmi ASPEBINDO, dikutip Rabu, 8 Juli 2026.
Faktor Usia PLTU di Jawa


Satya menjelaskan sejumlah PLTU di sistem Jawa, khususnya unit 1 hingga 7, telah beroperasi selama kurang lebih empat dekade. Faktor usia tersebut, menurutnya, berpotensi menyebabkan kemampuan pembangkit menghasilkan listrik tidak lagi sesuai dengan kapasitas terpasangnya.
Misalkan kalau dihitung kapasitas terpasangnya 3.600 megawatt (MW), tetapi daya mampunya di bawah itu,”
ujar Satya.
Ia menilai penurunan daya mampu pembangkit harus menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap kondisi PLTU nasional. Selain usia pembangkit, faktor lain seperti kegiatan pemeliharaan (maintenance) dan kualitas batu bara yang digunakan juga memengaruhi performa pembangkit.
Menurut Satya, apabila persoalan utama terletak pada menurunnya daya mampu PLTU, maka penanganannya tidak bisa dilakukan secara sederhana.
Maka, audit teknologi untuk masing-masing PLTU itu diperlukan, supaya kita mengetahui secara pasti karakteristiknya. Kita tidak bisa cuma menyalahkan dari sisi batu baranya saja, tetapi aspek teknis juga harus menjadi satu kesatuan dalam evaluasi,”
ucap Satya.
PLN Retrofit PLTU
Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan perusahaan berencana melakukan modifikasi (retrofit) sejumlah PLTU agar dapat menggunakan batu bara berkalori rendah. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga keandalan pembangkit sekaligus mengurangi risiko pemadaman bergilir.
Menurut Darmawan, keberhasilan modifikasi telah diterapkan pada PLTU Suralaya Unit 6 dan 7. Kedua unit tersebut kini mampu memanfaatkan batu bara dengan nilai kalori sekitar 4.100–4.300 kkal per kilogram, lebih rendah dibandingkan spesifikasi awal yang mensyaratkan 4.600–4.800 kkal per kilogram.
PLN menilai program retrofit dapat menjadi solusi jangka panjang mengingat produksi batu bara berkalori rendah saat ini lebih melimpah dibandingkan batu bara berkalori menengah hingga tinggi.
Keterbatasan pasokan batu bara kategori menengah sebelumnya juga menjadi salah satu faktor yang memicu pemadaman bergilir di sejumlah wilayah pada pertengahan Juni 2026.

























