Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran, sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Akibatnya, harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus naik 2,87 persen menjadi US$72,46 per barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September melonjak 2,75 persen menjadi US$76,18 per barel.
Militer AS menyatakan telah melancarkan serangkaian serangan dahsyat terhadap Iran, setelah tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz diserang pada Selasa. Washington memperingatkan Teheran akan menghadapi konsekuensi berat atas serangannya terhadap pelayaran komersial.
Serangan ini merupakan respons terhadap serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Agresi yang dilakukan Iran tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran jelas terhadap gencatan senjata,”
kata Komando Pusat AS dalam sebuah postingan di X dikutip dari CNBC, pada Rabu, 8 Juli 2026.
Ujian Damai


Perkembangan terbaru ini berpotensi menguji rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai bulan lalu, yang memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka setelah berbulan-bulan mengalami gangguan.
Kondisi ini juga menandakan bahwa situasi telah memburuk, Departemen Keuangan AS pada Selasa mencabut pengecualian yang sebelumnya memungkinkan Iran untuk menjual minyaknya.
Iran hanya akan menuai manfaat jika mereka menunjukkan perilaku yang baik. Tindakan Iran di Selat Hormuz sama sekali tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat dan akan dihadapi dengan konsekuensi,”
kata seorang pejabat AS kepada CNBC.
Menurut Joint Maritime Information Center yang dipimpin Amerika Serikat, tiga kapal diserang di sekitaran Selat Hormuz pada Selasa. Lembaga tersebut menaikkan tingkat penilaian ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut menjadi sangat parah, serta memperingatkan kemungkinan adanya aksi permusuhan lanjutan dari Iran.
Ini bukan kepentingan terbaik Iran untuk segera mencapai kesepakatan, karena posisi tawarnya terhadap Trump justru semakin kuat menjelang November. Meski demikian, serangan kemarin juga bertepatan dengan rangkaian upacara pemakaman kenegaraan Ali Khamenei,”
kata Analis strategi di Ortus Advisors Andrew Jackson.
Tekanan Politik Trump
Pemilu sela AS akan digelar pada bulan November, dan inflasi yang dipicu oleh konflik dijadwalkan berlangsung pada November. Kenaikan inflasi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi yang menyertainya, serta kemungkinan bahwa The Fed akan terpaksa mengambil sikap yang lebih hawkish karena inflasi yang tampaknya akan bertahan,”
ujar Jackson dalam surat elektroniknya.

























