Apakah kamu pernah ketemu orang yang terlihat banget ingin dicintai, tapi waktu hubungan mulai serius dia malah pilih menjauh, atau kamu pernah lihat orang yang takut banget buat kehilangan pasangannya, tapi disisi lain dia juga punya perasaan nggak nyaman saat hubungan terjalin begitu dekat.
Kondisi ini memang membingungkan, namun dalam dunia psikologi kondisi ini bisa berkaitan dengan disorganized attachment atau pola keterikatan tidak terorganisasi.
Ada yang menyebut ini terjadi karena anak tumbuh dari kombinasi ayah yang tidak hadir secara emosional dan ibu yang emosinya tidak stabil.
Gabungan itulah yang kemudian membuat anak tumbuh dengan membawa perasaan aman yang tidak utuh. Akibatnya, saat dewasa mereka kerap mengalami kebingungan dalam menjalin hubungan.
Lantas, apakah ini bisa diubah atau cegah? Berikut penjelasannya!
Apa Itu Disorganized Attachment?
Sebelum membahas mengenai cara pencegahannya, mari kita bahas terlebih dulu pengertian dari disorganized attachment.
Mengutip dari The Secure Relationship, disorganized attachment adalah pola keterikatan ketika seseorang menginginkan kedekatan emosional, tetapi pada saat yang sama ada rasa takut untuk menghadapi kedekatan tersebut.
Dengan kata lain, sistem emosinya mengirimkan dua sinyal yang bertolak belakang. Hal inilah yang membuat seseorang bisa sangat membutuhkan pasangannya hari ini juga, tetapi besok ia justru menarik diri tanpa alasan yang jelas.
Kalau di kalangan Gen Z, kondisi ini sering disebut punya hubungan yang mixed signals atau push-pull relationship.
Kenapa Ini Bisa Terjadi?
The Secure Relationship menyebut ada pola keterikatan yang membuat attachment style ini ada. Salah satunya adalah masa kecil yang tidak memberikan rasa aman secara konsisten.
Misalnya, anak tumbuh dengan orang tua yang sulit hadir secara emosional, sering berubah-ubah dalam menunjukkan kasih sayang, mengalami penolakan ketika mencari kenyamanan, hingga mengalami kekerasan atau penelantaran.
Sementara itu, ada juga teori attachment yang dikembangkan oleh psikolog John Bowlby yang menjelaskan bahwa hubungan anak dengan pengasuh utama akan menjadi fondasi cara mereka membangun hubungan ketika dewasa.
Artinya, jika sejak kecil anak sudah disuguhkan dengan rasa cinta yang membingungkan, otaknya bisa saja merasa asing dengan hubungan yang sehat.
Tanda-Tanda Disorganized Attachment Saat Dewasa
Mengutip dari penjelasan The Secure Relationship, ada beberapa ciri yang sering diindikasikan sebagai disorganized attachment, di antaranya:
- Takut ditinggalkan (fear of abandonment).
- Takut terlalu dekat secara emosional.
- Sulit percaya pada pasangan meski sangat menyayanginya.
- Sering overthinking terhadap hubungan.
- Mudah merasa triggered oleh konflik kecil.
- Menjauh ketika pasangan mulai menunjukkan perhatian yang konsisten.
Mungkin sebagian orang menganggap perilaku ini sebagai red flag. Padahal, dalam banyak kasus respons tersebut merupakan mekanisme perlindungan diri yang sudah terbentuk sejak kecil.
Kenapa Hubungan Terasa Push-Pull?
The Secure Relationship menjelaskan bahwa orang dengan disorganized attachment hidup di antara dua ketakutan sekaligus.
Mereka ingin dicintai, tetapi ketika benar-benar mendapatkan kasih sayang, muncul rasa curiga atau takut terluka.
Karena itu, pasangannya biasa merasa hubungan mereka seperti permainan tarik-ulur dan jelas situasi ini bisa sangat membingungkan.
Hari ini hubungan terasa hangat, tetapi keesokan harinya pasangan mendadak menjaga jarak tanpa penjelasan yang jelas.
Apakah Bisa Diperbaiki?
Kabar baiknya, jawabannya adalah bisa. Proses penyembuhannya bisa dimulai dari menyadari pola attachment yang dimiliki.
Setelah itu, seseorang dapat belajar membangun rasa percaya, mengelola emosi, memperbaiki cara berkomunikasi, hingga mengikuti terapi bila diperlukan.
Proses healing ini memang tidak instan. Namun, seiring waktu seseorang dapat membangun secure attachment, yakni pola hubungan yang lebih sehat dan stabil.
Disorganized attachment bukan berarti seseorang tidak mampu mencintai atau sengaja membuat hubungan menjadi rumit.
Sebaliknya, pola ini sering kali merupakan dampak dari pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian.
Dengan mengenali akar masalahnya dan mendapat dukungan yang tepat, seseorang tetap bisa membangun hubungan yang aman, sehat, dan minim drama.


















