Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 11 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • Purbaya
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Kesehatan / Fatty Liver Kini Banyak Menyerang Usia 30-an, Dokter IPB Ungkap Penyebab dan Cara Mencegahnya
Kesehatan

Fatty Liver Kini Banyak Menyerang Usia 30-an, Dokter IPB Ungkap Penyebab dan Cara Mencegahnya

Syifa FauziahIvan OWRITE
Last updated: Juli 10, 2026 10:57 pm
By
Syifa Fauziah
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Follow:
Ivan Syahruna Lubis
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Follow:
3 jam lalu
Share
Ilustrasi Fatty Liver Kini Banyak Menyerang Usia 30-an
Ilustrasi Fatty Liver Kini Banyak Menyerang Usia 30-an (Foto: unsplash.com)
SHARE

Kasus perlemakan hati atau fatty liver yang dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, terutama usia 30-an tahun.

Daftar isi Konten
  • Lima Langkah Pencegahan
  • Edukasi Sejak Dini

Secara global, prevalensi fatty liver diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dan terus meningkat. Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.

Adapun prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 36,8 persen.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, menjelaskan bahwa fatty liver terjadi akibat penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme tubuh.

Baca juga:
Baru Mulai Fitness? Ini 7 Gerakan Gym yang Cocok untuk… Di tengah meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, semakin banyak perempuan yang…
Sering Begadang tapi Mau Glowing? Skincare Expert Spill Trik Rawat… Memiliki kulit sehat menjadi dambaan banyak orang, bahkan rela mengeluarkan biaya lebih…
That Girl Era yang Bisa Kamu Jalani Tanpa Fake Productivity That girl era nggak harus selalu estetik dan super produktif. Artikel ini…
  • Baru Mulai Fitness? Ini 7 Gerakan Gym yang Cocok untuk Wanita Pemula
  • Sering Begadang tapi Mau Glowing? Skincare Expert Spill Trik Rawat Kulit dari…
  • That Girl Era yang Bisa Kamu Jalani Tanpa Fake Productivity

Menurutnya, penyakit ini sering dijuluki sebagai silent killer karena berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis yang jelas dan dapat berujung pada kerusakan hati permanen.

Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi) atau tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati. Individu dengan obesitas, diabetes melitus, maupun gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami fatty liver,”

ujar dr Widya dalam keterangan resminya.

Menurut dr Widya, tingginya angka tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya masalah metabolik di masyarakat, seperti obesitas, obesitas sentral atau perut buncit, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula dan kalori, serta kurangnya aktivitas fisik.

Meski begitu, ia menyebutkan bahwa fatty liver tidak hanya menyerang orang dengan berat badan berlebih. Orang dengan berat badan normal tetap dapat mengalami perlemakan hati apabila memiliki perut buncit, resistensi insulin, diabetes, pola makan tinggi gula, atau kurang aktivitas fisik.

Slow Jogging Jadi Tren Olahraga Baru di Korea Selatan, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan

dr Widya menambahkan, fatty liver bukan sekadar masalah pada organ hati, melainkan penanda adanya gangguan metabolik di seluruh tubuh.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur solusi instan seperti suplemen, produk detoks, atau herbal yang diklaim dapat “membersihkan hati”.

Penggunaan obat-obatan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola hidup yang sehat. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver,”

ungkapnya.

Lima Langkah Pencegahan

Sebagai langkah pencegahan, dr Widya menyampaikan lima pesan edukasi penting yang sejalan dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pertama, menurunkan berat badan secara bertahap. Penurunan berat badan sekitar 5–10 persen diketahui dapat mengurangi lemak hati, peradangan, dan risiko fibrosis.

Kedua, mengurangi konsumsi minuman manis seperti teh manis, kopi susu dengan gula tinggi, minuman boba, soda, minuman kemasan, dan sirup yang menjadi sumber gula cair dengan kalori tinggi.

WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen,”

ujarnya.

Ketiga, menerapkan pola makan seimbang dengan komposisi setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat protein, serta seperempat karbohidrat.

Masyarakat juga disarankan membatasi makanan ultraproses, gorengan, makanan manis, dan camilan tinggi kalori.

Keempat, melakukan aktivitas fisik secara rutin. WHO merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau sekitar 30 menit per hari selama lima kali dalam seminggu. Latihan beban dua kali seminggu juga dianjurkan untuk meningkatkan massa otot dan sensitivitas insulin.

Kelima, melakukan pemeriksaan faktor risiko secara berkala, termasuk pengukuran lingkar perut, indeks massa tubuh (IMT), kadar gula darah, profil lipid, tekanan darah, hingga pemeriksaan fungsi hati dan USG abdomen bila diperlukan.

Edukasi Sejak Dini

Lebih lanjut, dr Widya menekankan bahwa pencegahan fatty liver sebaiknya dimulai sejak usia anak. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) merekomendasikan skrining fatty liver pada anak obesitas mulai usia 9–11 tahun, terutama jika disertai faktor risiko tambahan seperti resistensi insulin, diabetes, dislipidemia, atau riwayat keluarga dengan fatty liver.

Anak perlu dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, perbanyak aktivitas luar ruang, kurangi waktu layar (screen time), tidur cukup, serta membatasi konsumsi minuman manis dan makanan ultraproses,”

ujarnya.

Pada remaja, edukasi perlu dikaitkan dengan gaya hidup modern, seperti konsumsi minuman kekinian, makanan cepat saji, kebiasaan begadang, kurang bergerak, dan stres yang dapat meningkatkan risiko obesitas serta gangguan metabolik.

Sementara itu, pada kelompok dewasa muda, masyarakat dianjurkan mulai rutin memantau berat badan, lingkar perut, tekanan darah, gula darah, dan kadar lipid, terutama jika memiliki riwayat keluarga diabetes, obesitas, atau penyakit jantung.

Pada usia di atas 40 tahun, deteksi dini perlu dilakukan lebih aktif karena risiko berbagai penyakit metabolik semakin meningkat.

Dokter Widya juga mengingatkan agar masyarakat tidak menormalisasi hasil diagnosis “fatty liver ringan”.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan hati, fibrosis, sirosis, bahkan kanker hati jika tidak ditangani dengan baik.

Pencegahan fatty liver memerlukan kolaborasi semua pihak karena masyarakat akan sulit menerapkan gaya hidup sehat apabila makanan tinggi gula dan lemak lebih mudah diakses, lebih murah, dan lebih banyak dipromosikan dibandingkan pilihan yang sehat,”

tanbahnya.
Tag:Fatty LiverGaya Hidup SehatKesehatan HatiObesitasPenyakit hati
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Follow:
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
AHY Unggul Kompetensi, Gibran Bertumpu pada Kekuatan Finansial dan Pengaruh Jokowi
By Rahmat Tunny
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].
1
Diseret Isu Kasus Blackout, Jampidsus Febrie: Saya Juga Tidak Paham Ada Kaitan dengan Saya
By Rahmat Baihaqi
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah beri keterangan pers.
2
Profil Febrie Adriansyah, Jampidsus yang Menangani Deretan Kasus Korupsi Besar di Indonesia
By Ani Ratnasari
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah (kiri) menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Kejaksaan Agung, Jakarta
3
Kasus Asabri Sudah Inkrah, Jampidsus Mendadak ‘Amnesia’ Soal Nasib Hukum Tan Kian
By Rahmat Baihaqi
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah keluar dari ruangan untuk menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
4
Kortastipidkor ‘Sikat’ Ruko ke-13 di Cipete, Terpaksa Potong Gembok demi Cari Bukti
By Rahmat Baihaqi
Polisi membawa barang bukti sitaan usai penggeledahan terkait penyidikan kasus dugaan korupsi tindak pidana pencucian uang (TPPU) di sebuah ruko, Jalan Asem 2, Cipete Selatan, Jakarta, Jumat (10/7/2026) dini hari.
5

BERITA LAINNYA

Ilustrasi Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular
Kesehatan

Kasus TB di Indonesia Tembus 1,08 Juta, Kemenkes Terapkan Strategi Baru Pelacakan Kontak Erat

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
1 hari lalu
Indonesia-Tiongkok Kembangkan Vaksin Dengue mRNA
Kesehatan

Kemenkes Kembangkan Vaksin DBD Berbasis mRNA, Berpotensi Jadi yang Pertama di Dunia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghadirkan Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA untuk mengurangi kasus…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
2 hari lalu
Ilustrasi seorang wanita saat makan sesudah mandi
Kesehatan

Mandi Habis Makan Berbahaya? Fakta atau Cuma Mitos? Begini Penjelasan Ilmiahnya!

Pernah nggak, habis makan kenyang terus hawanya pengen langsung mandi biar badan…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
3 hari lalu
Anomali suhu muka laut Indonesia Dasarian III Juni 2026
Kesehatan

El Nino Tingkatkan Risiko ISPA hingga Stroke, Epidemiolog Ingatkan Bahaya Polusi Udara

Epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH, mengatakan…

Syifa FauziahAmin-Suciady-Owrite
By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
3 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up