Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menilai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan tetap mengedepankan kader internal sebagai calon presiden pada Pilpres 2029 meski harus menghadapi risiko kekalahan dalam kontestasi politik nasional.
Konsistensi tersebut merupakan bagian dari tradisi kaderisasi PDIP yang selama ini lebih mengutamakan kader yang memahami ideologi dan garis perjuangan partai dibanding mengusung figur dari luar.
Kalau sama Anies hanya komunikasi biasa, kenyataannya tidak juga. Karena PDI Perjuangan ini termasuk partai yang mengutamakan kader sendiri,”
kata Fernando kepada Owrite, Minggu, 12 Juli 2026.
Tradisi yang Mengakar
Fernando mengatakan keputusan itu tidak terlepas dari pola kaderisasi yang telah lama dibangun PDIP, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Karena memang PDI Perjuangan itu betul-betul mempertimbangkan terkait dengan kaderisasinya,”
ucap dia.
Penguatan kepemimpinan melalui kader internal menjadi strategi yang terus dipertahankan oleh partai berlambang banteng tersebut.
Memang ada beberapa daerah yang perlu diperkuat juga. Kemudian mereka membangun kepemimpinan di daerah, lalu membangun kepemimpinan tingkat pusat. Itu memang berulang kali kadernya,”
ujar Fernando.
Fernando mencontohkan sikap PDI Perjuangan pada Pilpres 2024 yang tetap memilih mengusung kadernya meski memiliki peluang membangun koalisi yang dinilai lebih menguntungkan secara elektoral.
Misalnya seperti (Pemilu) 2024. (Isu) menduetkan Pak Prabowo dengan Pak Ganjar pada 2024, tetapi PDI Perjuangan menolak. Walaupun risikonya kalah, PDI Perjuangan atau Bu Mega lebih mempertimbangkan kadernya untuk diusung daripada mengusung kader lain,”
jelas dia.
Tak Berarti Setuju
Ia berpendapat komunikasi politik dengan tokoh di luar partai, termasuk Anies Baswedan, tidak otomatis berujung pada dukungan pencalonan apabila bertentangan dengan prinsip kaderisasi yang dipegang PDIP.
Termasuk misalnya Pak Anies sudah berkomunikasi, tetapi memang secara elektabilitas peluangnya Pak Anies lebih besar dibandingkan Pak Pram,”
ujar dia.
Keputusan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri selama ini menunjukkan bahwa pertimbangan ideologis tetap menjadi faktor utama dalam menentukan calon yang diusung partai.
Apalagi berdasarkan survei itu kalah jauh dengan Pak Anies, tapi Bu Mega berani memutuskan karena memang lebih mengedepankan kader-kader, apalagi kader yang sudah memang menjiwai, mendalami terkait dengan visi-visi program-program ajaran Bung Karno yang menjadi platform Partai PDI Perjuangan,”
tutur dia.






















