Fenomena bediding kembali dirasakan warga Yogyakarta dalam beberapa pekan terakhir. Suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya.
Banyak yang mengira udara dingin ini dipicu karena hujan atau cuaca ekstrem. Padahal, kondisi itu merupakan fenomena alam yang lazim terjadi saat musim kemarau di sejumlah wilayah Pulau Jawa, khususnya Yogyakarta.
Dalam masyarakat Jawa, fenomena ini dikenal dengan sebutan bediding. Tapi, apa sebenarnya yang menyebabkan fenomena bediding terjadi?
Melansir dari laman Pemerintah Kota Yogyakarta, 13 Juli 2026, simak penjelasan lengkapnya soal penyebab fenomena bediding di Yogyakarta.
Fenomena bediding merupakan kondisi cuaca yang ditandai dengan suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari. Namun, berubah menjadi cukup panas pada siang hari.
Fenomena bediding umum terjadi saat puncak musim kemarau termasuk di Yogyakarta.
Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk mewaspadai fenomena ini.
Kenapa Bediding Terjadi saat Kemarau?
Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Yogyakarta Iswari Mahendrarko menjelaskan bediding terjadi karena berkurangnya tutupan awan saat musim kemarau. Kondisi itu membuat panas matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi pada siang hari, dan lebih dingin saat malam hari.
Fenomena ini juga diperkuat oleh angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Yogyakarta. Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari dapat berkisar antara 19–21 derajat Celsius. Adapun pada siang hari meningkat hingga 31–32 derajat Celsius.
BPBD juga menyebut pengaruh El Nino turut menyebabkan musim hujan datang lebih lambat sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Dampak Fenomena Bediding
Udara yang lebih kering dan berdebu berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, hingga menurunkan daya tahan tubuh.
Di sisi lain, suhu yang tinggi pada siang hari meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran.
BPBD Kota Yogyakarta mengimbau agar masyarakat menggunakan pakaian hangat, memperbanyak konsumsi air putih. Selain itu, masyarakat diimbau mengonsumsi makanan bergizi, dan memakai masker saat beraktivitas di lingkungan berdebu.
Selain itu, warga diimbau tak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman guna mencegah kebakaran.
Lalu, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air sebagai langkah antisipasi bila musim kemarau berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino.
























