Militer Iran mengatakan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat (AS) untuk ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz.
AS dinilai Iran berbahaya jika diberi kesempatan ikut campur dalam mengelola salah satu jalur vital distribusi minyak dunia itu.
Petualangan dan tindakan jahat Washington yang berulang kali untuk ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz telah sangat membahayakan keamanan kawasan,”
demikian pernyataan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya yang disiarkan stasiun televisi pemerintah IRIB dikutip dari Middle East Monitor, Rabu, 15 Juli 2026.
Iran menegaskan akan menindak setiap gangguan dan ketidakamanan terhadap jalur pelayaran kapal dagang dan tanker oleh tentara AS.
Militer Iran juga memperingatkan agar negara-negara di kawasan itu tidak bekerja sama dengan tentara AS.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Ebrahim Zolfaqari mengatakan Teheran akan terus menjaga kedaulatan dan kendali Iran atas Selat Hormuz dengan kekuatan serta tekad yang kuat.
Kami akan memaksa kekuatan asing dan sekutu mereka untuk tunduk pada kehendak bangsa Iran,”
ujar Zolfaqari.
Peringatan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington kemungkinan akan mengambil alih operasi di Selat Hormuz. Trump menaruh harapan agar negara-negara lain membayar Washington atas perlindungan jalur Selat Hormuz.
Kami akan menjaganya. Kami ingin ganti rugi karena telah membahayakan rakyat kami,”
kata Trump.
Dalam pernyataan selanjutnya, Trump menyampaikan pihaknya sudah mengaktifkan kembali blokade terhadap Iran di Selat Hormuz. Dia juga pede siap mengenakan biaya kepada setiap kapal yang melintas untuk jalur aman.
Blokade sebelumnya dicabut setelah Pakistan memediasi nota kesepahaman antara AS dan Iran pada bulan Juni. Nota kesepahaman jalan damai itu bakal diikuti oleh kesepakatan akhir setelah setidaknya 60 hari negosiasi, termasuk tentang program nuklir Iran.
Namun, peta jalan damai yang sudah diteken AS dan Iran itu buyar karena dua pihak kembali terlibat konflik.























