Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengatakan, Presiden Prabowo Subianto perlu mengevaluasi dan mencopot pembantu yang dinilainya membangun komunikasi publik secara agresif, termasuk Ulta Levenia Nababan yang menjadi sorotan usai polemik merespons kritik mahasiswa dengan cara menghina jas almamater Universitas Indonesia (UI) dengan kata ‘daster kuning’.
Saya ragu Presiden Prabowo Subianto akan mampu menyelesaikan masa jabatannya sampai 2029 kalau masih mempertahankan mereka-mereka yang komunikasinya selalu ingin menyerang (agresif) dan defensif,”
kata Fernando Emas kepada Owrite, Kamis, 23 Juli2026.
Ulta Levenia Nababan saat ini menjabat sebagai Plt. Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI sekaligus juga Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP).
Menurut Fernando, cara sebagian pembantu Presiden merespons kritik publik justru dinilainya memperburuk citra pemerintah. Komunikasi yang dibangun, dinilai lebih berorientasi menyerang pengkritik daripada menjawab substansi kritik dengan argumentasi yang dapat diterima publik.
Sangat diragukan kesungguhan mereka mendukung pemerintahan Prabowo Subianto karena kesan yang dibangun bukan positif tetapi semakin negatif sehingga membuat masyarakat semakin jenuh,”
jelasnya.
Polemik yang melibatkan Ulta Levenia Nababan saat merespons kritik mahasiswa dengan penghinaan terhadap jas almamater Universitas Indonesia (UI) yang menuai kontroversi, sambung Fernando, menjadi contoh pentingnya pembenahan pola komunikasi pemerintah.
Ditegaskannya, pejabat atau tenaga ahli pemerintah seharusnya mengedepankan dialog dan penjelasan atas kritik, bukan memunculkan polemik baru.
Fernando berpendapat, keputusan untuk mengevaluasi jajaran pembantu Presiden sepenuhnya berada di tangan Prabowo. Namun, langkah tersebut perlu dilakukan apabila pemerintah ingin memperbaiki persepsi publik.
Keputusan ada pada Prabowo, kalau ingin semakin baik persepsi publik segera lakukan pencopotan terhadap mereka yang komunikasinya membuat gaduh,”
ucapnya.
Fernando juga mendesak Presiden tidak ragu mengganti pembantu yang dinilainya justru membebani pemerintahan melalui komunikasi publik yang kontroversial.
Prabowo segera menyingkirkan para pembantunya yang membuat citra pemerintahannya buruk. Tidak perlu ragu memecat mereka,”
tegasnya.



















