Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka perlu membangun poros politik sendiri untuk menjaga daya tawarnya, menyusul munculnya berbagai tafsir atas posisi duduknya yang terpisah dari Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet.
Ya, bisa jadi, dan sangat mungkin Gibran pun harus membuat poros politiknya, untuk menjaga daya tawarnya,”
kata Hendri Satrio kepada Owrite, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurut akademisi yang akrab disapa Hensa itu, dalam politik, setiap tokoh membutuhkan basis kekuatan yang mampu meningkatkan posisi tawar dalam menghadapi dinamika kekuasaan. Hal itu juga berlaku bagi Gibran apabila ingin tetap memiliki pengaruh dalam konstelasi politik nasional.
Jadi kalau dia nggak punya poros politik, kan mau gimana, gitu. Jadi dalam politik itu sangat wajar,”
ucapnya.
Ia menilai pembentukan poros politik tersebut penting agar Gibran memiliki kekuatan politik yang dapat diperhitungkan. Hal itu baik dalam hubungannya dengan Presiden Prabowo maupun dalam menghadapi dinamika politik menjelang Pemilu 2029.
Dan untuk meningkatkan daya tawar, Gibran harus memperlihatkan kepada Prabowo kalau dia juga punya basis massa yang kuat,”
jelasnya.
Dijelaskan Hensa, bila Gibran mampu membangun basis politik yang kuat, maka akan muncul dua kemungkinan dalam hubungan politiknya dengan Presiden Prabowo, yakni dirangkul kembali atau justru memasuki fase kompetisi politik.
Sehingga apa? Sehingga bisa jadi kan pilihannya langsung dua. Dirangkul atau memang ada kompetisi,”
ujarnya.
Hensa berpandangan dinamika tersebut merupakan hal yang lazim dalam politik. Karena itu, menurutnya, penguatan poros politik menjadi langkah yang dapat meningkatkan posisi tawar Gibran di tengah berkembangnya berbagai tafsir atas simbol-simbol politik yang muncul dalam rapat kabinet.
Dalam hal ini kelihatannya lebih mengedepankan yang paling penting, yaitu dua-duanya atau poros politiknya ini muncul sama-sama kuat,”
tutur Hensa.





















