Pengamat politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai, tren survei terbaru menunjukkan elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terus meningkat hingga melampaui Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, apabila tren tersebut berlanjut Dedi berpeluang menjadi salah satu figur kuat pada Pemilihan Presiden 2029, termasuk melalui partai politik lain apabila tidak diusung Partai Gerindra.
Hasil survei SMRC memperlihatkan dalam 9 bulan terakhir elektabilitas Prabowo di simulasi semi terbuka kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo 81,2 persen dan pada Juli 2026 turun menjadi 51,1 persen. Sementara, di periode yang sama, elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi naik dari 19,7 persen menjadi 35 persen,”
kata Jamiluddin kepada Owrite, Kamis, 30 Juli 2026.
Jamiluddin mengatakan, temuan tersebut menarik karena Dedi dan Prabowo sama-sama berasal dari Partai Gerindra. Namun menurutnya, justru Dedi yang saat ini memimpin Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunjukkan tren kenaikan elektabilitas yang lebih kuat.
Menariknya, elektabilitas Prabowo justru dilampaui Dedi Mulyadi yang sama-sama kader Gerindra. Dedi yang hanya memimpin Jawa Barat mampu menyalip elektabilitas Prabowo,”
ucapnya.
Pesaing Kuat Prabowo
Diakui Jamiluddin, peluang Dedi untuk terus meningkatkan elektabilitas masih terbuka lebar apabila mampu menjaga konsistensi kinerja sebagai kepala daerah.
Ia menilai, pembangunan infrastruktur hingga wilayah pedesaan serta kedekatan dengan masyarakat menjadi modal politik yang dapat memperkuat dukungan publik.
Bahkan tidak menutup kemungkinan elektabilitas Dedi terus melejit bila tetap konsisten membangun infrastruktur hingga pedesaan. Dedi juga tetap konsisten menyapa dan peduli terhadap warganya,”
ungkapnya.
Ia menjelaskan, apabila tren tersebut terus berlanjut, Dedi dapat menjadi pesaing serius dalam kontestasi Pilpres 2029.
Bahkan, kondisi itu juga berpotensi membuka peluang bagi partai politik lain untuk menawarkan kendaraan politik kepada Dedi apabila peluang pencalonannya melalui Gerindra tidak terbuka.
Kalau Dedi terus konsisten, bisa jadi ancaman nyata buat Prabowo di Pilpres 2029. Dedi bisa saja dilirik partai lain bila peluangnya maju melalui Gerindra tertutup,”
jelasnya.
Peluang Pindah
Lebih jauh Jamiluddin, perpindahan partai bukan sesuatu yang mustahil bagi Dedi. Ia mengingatkan, bahwa Dedi sebelumnya pernah berkarier sebagai kader Partai Golkar sebelum bergabung dengan Gerindra.
Peluang itu bisa terjadi, karena Dedi bukanlah sosok yang konsisten di satu partai. Sebelumnya Dedi kader Golkar, kemudian nyebrang ke Gerindra,”
bebernya.
Karena itu, lanjut Jamiluddin, tingginya elektabilitas dapat menjadi faktor yang memengaruhi arah langkah politik Dedi menjelang Pilpres 2029.
Ia menilai, setiap figur yang memiliki peluang elektoral besar akan berupaya mencari kendaraan politik yang memberikan kesempatan untuk maju sebagai calon presiden.
Karena itu, tidak tertutup kemungkinan Dedi akan pindah ke partai lain lagi bila elektabilitas tinggi tapi Gerindra tidak mengusungnya menjadi capres. Dedi berpeluang pindah ke partai yang mau mengusungnya,”
tutup Jamiluddin.





















