Musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng selalu menghadirkan pemandangan yang bikin banyak orang terpukau.
Karena pada periode itu rumput, daun, hingga tanaman tampak diselimuti lapisan putih tipis yang sekilas terlihat seperti salju.
Fenomena ini dikenal sebagai embun upas atau embun es, dan bahkan banyak wisatawan yang sengaja datang ke Dieng untuk mengabadikan momen langka tersebut, karena pemandangannya memang estetik dan cocok buat dimasukkan di feed Instagram.
Tapi tahukah kamu? Kalau di balik keindahannya, para petani di sana punya cerita yang berbeda tentang embun upas ini. Kok bisa?
Embun Upas
Embun upas adalah lapisan kristal es yang terbentuk ketika suhu udara turun hingga mencapai titik beku, biasanya terjadi pada dini hari saat musim kemarau.
Fenomena ini paling sering muncul di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.
Karena berada di dataran tinggi, tekanan udara di Dieng lebih rendah dan udaranya lebih tipis. Kondisi tersebut membuat suhu lebih mudah turun drastis dibandingkan wilayah lain.
Kenapa Bisa Terjadi?
Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Aris Pramudia, embun upas tidak terjadi hanya karena udara dingin.
Ada beberapa faktor yang saling mendukung hingga kristal es bisa terbentuk, yaitu:
- Tiupan angin dingin saat puncak musim kemarau.
- Langit cerah tanpa tutupan awan sehingga panas bumi lebih cepat lepas ke atmosfer pada malam hari.
- Bentuk wilayah Dieng yang berupa cekungan membuat udara dingin mengendap dan terjebak.
- Angin yang cenderung tenang menjelang subuh.
- Suhu turun hingga mencapai titik beku.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat embun biasa berubah menjadi kristal es yang menempel di permukaan tanaman.
Cantik Bagi Wisatawan
Buat wisatawan, embun upas adalah momen yang ditunggu-tunggu. Lanskap Dieng bahkan disebut-sebut sebagai negeri musim dingin dan selalu menjadi spot foto favorit.
Sayangnya, kondisi ini justru menjadi mimpi buruk bagi petani. Karena suhu yang sangat dingin ini bisa merusak jaringan tanaman, terutama kentang, kubis, wortel, dan berbagai sayuran dataran tinggi lainnya. Daun akan menghitam, layu, bahkan mati sehingga bisa menurunkan hasil panen.
Karena itulah embun ini diberi nama “upas“, yang dalam bahasa Jawa berarti racun. Tapi, salah satunya kreator edukasi pertanian @fahrurirzan menyebut ada salah satu keuntungan dari fenomena ini.
Ia menjelaskan bahwa tanaman kentang memang mengalami kerusakan setelah terkena embun upas. Namun, pada periode tanam berikutnya, produktivitas sering kali justru meningkat.
Lho, kok bisa? Ternyata, bukan karena embun upas membuat tanaman menjadi lebih subur. Yang terjadi adalah setelah fenomena embun upas, ekosistem di sekitar tanaman juga akan ikut berubah.
Suhu yang sangat dingin membuat banyak hama dan penyakit tanaman tidak mampu bertahan hidup. Akibatnya, jumlah hama pada musim berikutnya menjadi lebih sedikit.
Di sisi lain, langit setelah embun upas biasanya lebih cerah sehingga sinar matahari yang diterima tanaman meningkat. Kondisi ini membantu proses fotosintesis menjadi lebih optimal.
Pada tanaman kentang, hasil fotosintesis akan disimpan sebagai pati di dalam umbi. Ketika gangguan hama berkurang dan fotosintesis berjalan lebih maksimal, maka ada peluang untuk umbi menghasilkan lebih banyak buah.
Artinya, yang meningkatkan hasil panen bukan embun upas-nya, melainkan perubahan ekosistem setelah fenomena tersebut terjadi.
Mengurangi Dampak
Melansir dari laman BRIN, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan akibat embun upas, di antaranya:
- Menyemprotkan air ke tanaman (water sprinkling).
- Memberikan penutup atau naungan pada tanaman.
- Menggunakan mulsa untuk menjaga suhu tanah.
- Menciptakan sirkulasi udara dengan bantuan kipas atau pengaduk udara.
- Memilih lokasi tanam yang lebih aman dari suhu ekstrem.
BRIN juga menilai tanaman hortikultura seperti kentang dan sayuran tetap layak dikembangkan di Dieng, asalkan petani melakukan antisipasi saat musim embun upas tiba.
Embun upas menjadi bukti bahwa alam selalu punya dua cerita. Di satu sisi, fenomena ini menghadirkan panorama bak salju yang membuat banyak orang rela datang jauh-jauh ke Dieng.
Namun, di sisi lain, embun upas menjadi tantangan besar bagi para petani yang menggantungkan hidup dari hasil panen.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa fenomena ini juga menunjukkan bagaimana ekosistem bekerja secara alami.
Kerusakan yang terjadi memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi perubahan lingkungan setelahnya dapat membantu menekan hama dan memberi peluang hasil panen yang lebih baik pada musim berikutnya.




















