Di era digital seperti saat ini, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak.
Mulai dari menonton video, bermain gim, hingga mengikuti pembelajaran daring, penggunaan gawai memang memberikan berbagai manfaat.
Namun, jika tidak diawasi dengan baik, penggunaan gawai yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi tumbuh kembang anak.
Paparan layar dalam waktu lama dapat menyebabkan mata lelah, gangguan tidur, nyeri pada leher dan punggung, serta menurunkan aktivitas fisik yang berisiko meningkatkan kejadian obesitas pada anak.
Di sisi lain, banyak orang tua mengeluhkan anak yang sulit lepas dari gawai. Bahkan, tidak sedikit anak yang menangis, marah, atau tantrum saat perangkat tersebut diambil.
Perubahan Perilaku
Kondisi ini sering kali menjadi tanda bahwa anak sudah mulai mengalami ketergantungan terhadap gawai.
Dokter Spesialis Anak dr. Dianing Latifah, Sp.A. mengatakan kecanduan gawai tidak hanya diukur dari lamanya waktu penggunaan, tetapi juga dari perubahan perilaku yang ditimbulkan.
“Anak yang kecanduan gawai biasanya kehilangan minat terhadap aktivitas lain, lebih memilih bermain gawai dibanding berinteraksi dengan keluarga atau teman, sulit berkonsentrasi, serta menunjukkan emosi yang berlebihan ketika akses terhadap gawai dibatasi,”
ujar dr. Dianing dalam keterangannya seperti dikutip pada Rabu, 5 Juli 2026.
Kurangnya interaksi sosial secara langsung dapat berdampak pada perkembangan kemampuan komunikasi dan keterampilan sosial mereka.
Lantas bagaimana jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda kecanduan gawai?
dr. Dianing menjelaskan langkah pertama adalah tidak langsung melarang penggunaan gawai secara total. Pembatasan yang terlalu mendadak justru dapat memicu konflik dan membuat anak semakin sulit menerima aturan.
Orang tua disarankan untuk mengurangi durasi penggunaan gawai secara bertahap sambil memberikan alternatif aktivitas yang menarik,”
ucapnya.
Menurut dr. Dianing, mengajak anak bermain di luar rumah, berolahraga, membaca buku, menggambar, atau melakukan kegiatan kreatif bersama keluarga dapat membantu mengalihkan perhatian mereka dari gawai.
Semakin banyak aktivitas positif yang dilakukan anak, semakin kecil keinginannya untuk terus bergantung pada layar.
Selain itu, orang tua perlu membuat aturan yang jelas dan konsisten terkait penggunaan gawai. Misalnya, tidak menggunakan gawai saat makan, saat belajar, maupun satu jam sebelum tidur.
Aturan ini sebaiknya diterapkan kepada seluruh anggota keluarga agar anak mendapatkan contoh yang baik dari lingkungan sekitarnya,”
tuturnya.
Anak Cenderung Meniru
Lebih lanjut ia menjelaskan peran orang tua sebagai teladan juga sangat penting. Anak cenderung meniru kebiasaan orang tuanya.
Jika orang tua sering menggunakan ponsel saat berkumpul bersama keluarga, anak akan menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang wajar.
Pada akhirnya, tujuan utama bukanlah menjauhkan anak dari teknologi, melainkan mengajarkan mereka untuk menggunakan teknologi secara sehat dan seimbang.
Dengan pendampingan yang tepat, gawai dapat menjadi sarana belajar dan hiburan yang bermanfaat tanpa mengganggu tumbuh kembang anak.
Jika orang tua mulai melihat perubahan perilaku anak akibat penggunaan gawai yang berlebihan, seperti anak menunjukkan gejala gangguan tidur yang berat, penurunan prestasi belajar, kesulitan bersosialisasi, atau tantrum berlebihan saat gawai diambil, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar mendapatkan penanganan yang sesuai,”
tambahnya.





















