Kepala Badan Riset dan Inovasi Strategis (BRAINS) Partai Demokrat Ahmad Khoirul Umam menilai, generasi muda mulai menjauh dari sistem politik yang dinilai tidak mampu menghadirkan harapan.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum diskusi politik lintas negara yang digelar BRAINS bersama International Republican Institute (IRI) di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, Selasa, 5 Agustus 2026.
Generasi muda tidak anti-politik. Mereka hanya anti terhadap politik yang tidak memberikan harapan,”
kata Khoirul Umam lewat pesan tertulis yang diterima Owrite, Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurutnya, perubahan karakter politik generasi muda harus menjadi perhatian seluruh partai politik. Pendekatan politik konvensional tidak lagi cukup untuk menarik partisipasi anak muda dalam proses demokrasi.
Karena itu, BRAINS mendorong keterlibatan kelompok-kelompok muda dari berbagai profesi, mulai dari petani muda, nelayan muda, atlet, pekerja kreatif, hingga pelaku teknologi agar ikut menentukan arah kebijakan publik.
Jika anak-anak muda yang berintegritas menjauh dari politik, ruang publik justru akan diisi oleh mereka yang tidak memiliki komitmen terhadap demokrasi,”
ucapnya.
Pendekatan Politik
Sementara itu Deputi BRAINS Jibriel Avissiena menilai, generasi digital membutuhkan pendekatan politik yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, komunikasi politik harus bergeser dari sekadar kampanye menjadi ruang dialog yang menawarkan solusi.
Engagement politik hari ini tidak cukup melalui kampanye konvensional. Kita harus hadir di ruang-ruang digital dengan data, dialog, dan solusi nyata,”
jelasnya.
Pandangan tersebut mendapat respons positif dari delegasi politisi muda Malaysia yang hadir dalam forum tersebut, di antaranya Sharifah Rashifah dari Malaysian United Democratic Alliance (MUDA) dan Neow Choo Seong dari Malaysian Chinese Association (MCA).
Keduanya sepakat bahwa meningkatnya partisipasi politik generasi muda menjadi salah satu fondasi penting bagi masa depan demokrasi di kawasan Asia Tenggara.





















