Cuaca panas ekstrem di Indonesia bukan lagi sekadar persoalan rasa gerah atau ketidaknyamanan. Kombinasi suhu tinggi, kelembapan, paparan sinar matahari, dan kondisi perkotaan dapat membuat tubuh mengalami heat stress atau stres panas.
Epidemiolog sekaligus pakar Global Health Security dari Griffith University dan Universitas YARSI, Dicky Budiman mengatakan Indonesia memang tidak mengalami heatwave atau gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di sejumlah negara empat musim.
Indonesia mungkin tidak mengalami heatwave seperti Eropa, tetapi paparan matahari berkepanjangan dapat menghasilkan heat stress yang sama berbahayanya,”
ujar Dicky dalam keterangannya seperti dikutip pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurutnya, karakteristik Indonesia sebagai negara tropis dengan kelembapan tinggi justru dapat membuat mekanisme pendinginan alami tubuh tidak bekerja secara optimal ketika suhu lingkungan meningkat.
Dicky mengibaratkan kondisi tersebut seperti berada di dalam sauna. Ketika suhu lingkungan tinggi dan kelembapan juga tinggi, keringat yang seharusnya membantu tubuh membuang panas menjadi tidak mudah menguap.
Akibatnya, tubuh semakin sulit melepaskan panas. Kondisi tersebut dapat membuat suhu yang dirasakan tubuh jauh lebih tinggi dibandingkan angka suhu udara yang tercatat.
Ketika suhu lingkungan 37–38 atau 39 derajat Celsius, feels like-nya bisa jauh lebih tinggi, misalnya 44–45 derajat Celsius. Ini karena mekanisme pendinginan tubuh tidak efektif akibat kelembapan yang tinggi,”
ujarnya.
Tubuh Kehilangan Cairan
Menurut Dicky, heat stress dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Kondisi ini kemudian dapat memicu peningkatan denyut jantung, perubahan tekanan darah, gangguan fungsi ginjal hingga gangguan pada otak dan sistem pembekuan darah.
Pada kondisi yang berat, panas ekstrem dapat menyebabkan gangguan pada banyak organ sekaligus.
Terutama ketika suhu inti tubuh mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, kondisi ini bisa mengakibatkan heat stroke, yaitu kegawatdaruratan medis dengan mortalitas tinggi jika tidak segera ditangani,”
jelasnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut heat stress sebagai salah satu penyebab utama kematian terkait cuaca.
Paparan panas dapat memperburuk penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan kesehatan mental, asma, serta meningkatkan risiko gangguan ginjal dan penyakit lainnya. Heat stroke sendiri merupakan kondisi medis darurat.


















