Ekonom Prof. Ferry Latuhihin melontarkan kritik terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai sejumlah kebijakan fiskal dan perpajakan berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap pengelolaan ekonomi nasional.
Saya bilang, kalau Anda menempati posisi yang begitu penting, tetapi Anda tidak punya kemampuan akademis, ini bahaya bagi negeri ini,”
katanya dikutip dari podcast YouTube ForumkeadilanTV, Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurut Ferry, posisi Menkeu memegang peran strategis dalam menentukan arah kebijakan fiskal. Karena itu, setiap keputusan yang diambil, akan berdampak luas terhadap kondisi perekonomian nasional.
Yang menjadi persoalan adalah 285 juta manusia ini kalau salah-salah mengambil keputusan. Itu kan pos yang paling penting, kebijakan fiskal,”
ucapnya.
Ferry kemudian mengaitkan kritiknya dengan hasil survei yang menunjukkan penurunan kepuasan publik terhadap kondisi ekonomi maupun kinerja Presiden. Menurutnya, kebijakan fiskal yang dijalankan turut menjadi faktor yang perlu dievaluasi.
Hasil survei Saiful Mujani mengatakan, kepuasan publik terhadap kondisi ekonomi kita turun dari 40 persen menjadi 15,7 persen. Kepuasan publik terhadap kinerja Presiden turun dari 81,2 persen ke 51,1 persen, ini tidak terlepas dari figur Purbaya,”
paparnya.
Kritik Pajak Dikawal Aparat
Ia juga menyoroti kebijakan yang melibatkan aparat TNI dan Polri dalam mendukung optimalisasi penerimaan pajak. Ferry menambahkan, langkah tersebut merupakan kebijakan yang patut dipertanyakan efektivitasnya.
Kita lihat bagaimana sekarang katanya Babinsa, TNI, Polri diturunkan ke daerah-daerah, bahkan ke kampung-kampung untuk mengejar-ngejar pajak. Ini tidak terlepas dari figur Purbaya,”
tegasnya.
Dijelaskan Ferry, gagasan penerbitan Patriot Bond atau Merah Putih Bond yang menurut pemahamannya memberikan perlindungan hukum kepada pembeli obligasi.
Ia menyampaikan, kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut dapat memengaruhi persepsi internasional terhadap sistem keuangan Indonesia.
Begitu juga dengan ide mengeluarkan Patriot Bond, Merah Putih Bond, yang katanya pembeli bond ini akan dilindungi secara hukum. Ini tidak terlepas dari figur Purbaya dan dia pun mengamini,”
jelasnya.
Untuk itu, kata Prof. Ferry, apabila persepsi tersebut berkembang, Indonesia berpotensi menghadapi tantangan dalam menjaga kredibilitas sistem keuangan di mata dunia.
Ini sangat mengancam posisi kita dalam global financial system. Sampai negara kita dianggap menjadi negara tempat money laundering, ini bahaya bisa di-cut. Kalau di-cut dari global financial system, kita enggak bisa transfer uang,”
bebernya.
Ia juga mengaitkan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dengan dinamika kebijakan ekonomi yang berkembang.
Juga figur Perry Warjiyo mengundurkan diri, saya yakin ini juga ada peran Purbaya,”
pungkasnya.





















